Vatikan City: Paus Leo XIV didiagnosis menderita kanker paru-paru pada Selasa 13 Oktober 2025 dan lobus bawah paru-paru kanannya diangkat melalui operasi.
Pernyataan Vatikan menyebutkan bahwa pemeriksaan terhadap nodul selama operasi telah mengonfirmasi diagnosis adenokarsinoma paru. Disebutkan pula bahwa kanker tersebut sebelumnya telah “dicurigai melalui tes pra-operasi.”
Operasi itu sendiri berlangsung sekitar 90 menit, dan Paus, yang berusia 71 tahun, berada di ruang operasi selama sekitar 3 jam. “Operasi berjalan sukses dan tidak ada komplikasi,” bunyi pernyataan tersebut, seperti dikutip the New York Times, Rabu 14 Oktober 2026.
Pernyataan itu tidak menyebutkan apakah Paus akan menjalani perawatan lanjutan. Seorang juru bicara Vatikan mengatakan bahwa pernyataan tersebut sudah cukup jelas dan tidak perlu penjelasan tambahan.
Adenokarsinoma paru adalah jenis kanker paru-paru yang umum terjadi. Tingkat kelangsungan hidup untuk jenis kanker ini sangat bervariasi, bergantung pada stadium kanker dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.
“Informasi yang dirilis mengenai Leo sejauh ini tampaknya mengindikasikan bahwa ia menderita kanker paru-paru stadium awal, yang biasanya ditangani dengan operasi dan cenderung memiliki tingkat kelangsungan hidup yang sangat tinggi,“ kata Dr. Sudish Murthy, seorang ahli bedah toraks di Cleveland Clinic.
Operasi tersebut dilakukan di sebuah rumah sakit di Roma, Policlinico A. Gemelli. Vatikan sebelumnya menyatakan bahwa Leo diperkirakan akan menjalani masa pemulihan selama sekitar satu minggu di rumah sakit setelah operasi, dan semua agenda audiensi dengannya akan dibatalkan hingga 20 Oktober.
Diagnosis kanker ini muncul hanya sekitar satu setengah tahun setelah Leo menjabat sebagai Paus. Sebagai Paus pertama yang berasal dari Amerika, ia terpilih untuk memimpin Gereja Katolik Roma pada Mei 2025.
Paus mengumumkan saat acara pemberkatan dan doa mingguan di Lapangan Santo Petrus pada hari Minggu bahwa para dokter telah menyarankan tindakan operasi setelah mendeteksi adanya nodul yang “berada pada stadium sangat awal dan terlokalisasi dengan baik” dalam pemeriksaan medis baru-baru ini.
Ia mengatakan bahwa ia masih berencana untuk melakukan perjalanan ke Amerika Selatan bulan depan, dan juru bicara Vatikan menyatakan bahwa rencana tersebut tidak berubah. Juru bicara mengatakan bahwa Paus sadar akan kondisinya saat berbicara pada hari Minggu.
Kemajuan medis dan terapi obat yang semakin efektif berarti bahwa diagnosis kanker paru-paru tidak lagi berarti vonis mati.
“Anda bisa sembuh dari tumor paru-paru,” kata Dr. Lorenzo Spaggiari, seorang ahli bedah onkologi toraks di Institut Onkologi Eropa di Milan yang bukan merupakan bagian dari tim medis Paus.
Ia menyebutkan bahwa salah satu pasiennya pernah berlari di Maraton New York setelah menjalani operasi pengangkatan paru-paru. “Hal yang penting adalah mendeteksinya pada tahap awal,” ujar Dr. Spaggiari.
Buletin medis tidak menyebutkan apakah ada kelenjar getah bening yang diangkat, namun Dr. Spaggiari mengatakan bahwa hal itu merupakan prosedur standar.
Seorang juru bicara Vatikan mengatakan bahwa pemeriksaan pascaoperasi dan histologis akan dilakukan dalam beberapa hari mendatang.
Rumah sakit tersebut memiliki sebuah kamar suite di lantai 10 yang telah disediakan khusus bagi para paus sejak masa kepausan Santo Yohanes Paulus II, namun kamar itu sedang direnovasi. Vatikan menyatakan bahwa Paus beristirahat di kamar suite lain di dekatnya. Seorang juru bicara Vatikan mengatakan Leo telah meminta untuk makan malam.
Tidak diketahui secara pasti apakah Paus pernah menjadi perokok. Saat ditanya mengenai hal ini, pihak Vatikan menolak memberikan tanggapan.
Terdapat riwayat kanker dalam keluarganya. Ibu Paus, yang terlahir dengan nama Mildred Martinez, meninggal dunia pada usia 78 tahun setelah didiagnosis menderita kanker dan menjalani kemoterapi. Ayahnya, Louis Prevost, meninggal pada usia 77 tahun akibat kanker usus besar dan penyakit jantung aterosklerotik, menurut kantor berita Katolik EWTN. Saudara laki-lakinya, Louis Prevost, pernah didiagnosis menderita mieloma multipel, sebagaimana dilaporkan oleh The Tampa Bay Times.
Leo tetap aktif secara fisik meskipun menjalani jadwal yang padat. Ia rutin bermain tenis dan berenang di tempat peristirahatan paus di Castel Gandolfo. Media berita Italia melaporkan bahwa apartemen yang baru direnovasi di Istana Apostolik -,tempat Paus pindah tahun ini,- dilengkapi dengan fasilitas olahraga pribadi.
Selama dirawat di rumah sakit, Paus diperkirakan akan tetap memimpin Vatikan kecuali jika ia tidak mampu menjalankan tugas, namun keputusan sehari-hari akan ditangani oleh birokrasi Vatikan yang luas. Setiap keputusan penting yang memerlukan persetujuan Paus diperkirakan akan ditunda hingga beliau pulih.
Paus dijadwalkan memimpin Misa penutup pada hari Rabu untuk pertemuan Vatikan yang membahas pelaksanaan dokumen mengenai pernikahan dan keluarga dalam kurun waktu 10 tahun sejak dokumen tersebut diterbitkan.
Sebagai gantinya, Misa tersebut akan dipimpin oleh Kardinal Luis Antonio Tagle (69 tahun), yang pekan lalu disetujui oleh Leo sebagai dekan baru Dewan Kardinal, menggantikan Kardinal Giovanni Battista Re (92 tahun). Sang dekan, yang mengoordinasikan kegiatan rekan-rekan kardinalnya, memegang peranan penting dalam setiap masa transisi kepausan.
Konferensi Waligereja Amerika Serikat mengimbau umat untuk mendoakan Paus, para tenaga medis yang merawatnya, serta orang-orang lain yang berada dalam situasi serupa. “Kami meminta umat beriman untuk terus mendoakan kesembuhan Paus Leo serta para dokter dan staf yang merawat beliau,” tulis kelompok tersebut dalam sebuah unggahan di media sosial pada hari Selasa.
Seiring menyebarnya kabar mengenai kondisi kesehatan Paus, masyarakat ramai-ramai menggunakan media sosial untuk menyampaikan harapan akan kesembuhannya. Di antara mereka adalah Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang mengatakan bahwa ia dan istrinya, Jeanette, sedang mendoakannya.
Marco Benzi, seorang pensiunan pegawai pos berusia 74 tahun yang berada di sana untuk mendampingi pengobatan kanker istrinya, mengatakan bahwa mereka merasa “beruntung” bisa melihat sekilas sosok Paus.
“Istri saya sangat taat beragama, seorang Katolik yang taat,” ujar Benzi mengenai istrinya, “jadi menurut pandangannya, dengan kehadiran Paus di gedung ini, segalanya akan berjalan lancar baginya.”
Adriana Campanella, seorang pensiunan dokter mata berusia 74 tahun yang sedang menunggu jadwal pemeriksaan di luar Rumah Sakit Gemelli, mengatakan ia yakin Paus akan berhasil melewatinya. “Beliau jelas masih muda dan aktif,” ujarnya. “Kita bisa melihat bahwa beliau penuh energi, dan beliau berada dalam penanganan medis terbaik,” ujar Campanella.
“Menurut saya, beliau memiliki sumber daya yang lebih besar dibandingkan kita semua,” pungkas Campanella.

