Sidoarjo, metrotvjatim.com- Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026, ratusan siswa dan guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) YPM 1 Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur, menggelar aksi kreasi unik bertajuk “Dari Santri Untuk Negeri”. Mereka berkolaborasi merangkai mozaik peta raksasa Nusantara berukuran 4 x 11 meter atau seluas 55 meter persegi di halaman madrasah.
Mozaik peta tersebut dibentuk dari 11 ribu helai daun kering yang dikumpulkan dan dibawa langsung oleh para siswa dari lingkungan tempat tinggal masing-masing. Sebelum ditempelkan menjadi satu kesatuan peta, setiap siswa menuliskan 5 hingga 10 pesan, doa, serta harapan mendalam bagi masa depan bangsa di atas lembaran daun tersebut.
Kepala MTs YPM 1 Wonoayu, Suhardi, menjelaskan bahwa pemilihan media daun kering memiliki makna filosofis yang mendalam. Selain melambangkan kesederhanaan karakter santri, daun kering juga menjadi simbol eratnya persatuan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
”Melalui kegiatan ini, anak-anak diperkenalkan kepada wilayah geografi NKRI agar mereka tumbuh menjadi generasi yang cinta tanah air,” ujar Suhardi, Kamis (22/10).
Selain itu, kegiatan ini dirancang ganda untuk melatih kepedulian lingkungan sejak dini. Para siswa dibiasakan untuk menjaga kelestarian alam, sebuah nilai yang diharapkan terus melekat dalam diri mereka hingga kelak memimpin suatu wilayah atau instansi.
Aksi ini disambut penuh antusias oleh para siswa. Salah seorang siswi kelas 7A MTs YPM 1 Wonoayu, Nava Adi Safitri, mengungkapkan alasannya menuliskan harapan agar Indonesia segera pulih dari berbagai persoalan.
”Saya tadi menulis semoga Indonesia akan segera pulih kembali, asap kendaraan akan hilang, dan Indonesia menjadi negara yang tertib, jauh dari korupsi dan lain-lain,” ungkap Nava.
Ia mengaku terinspirasi dari kondisi Indonesia saat ini yang diwarnai polusi serta isu korupsi, sehingga ia menuangkan keresahan tersebut sebagai bentuk harapan.
Melalui mozaik 11 ribu daun harapan ini, pihak madrasah berharap para santri tidak hanya teguh menjalankan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memiliki nasionalisme yang kuat serta kepekaan tinggi terhadap isu-isu sosial dan kelestarian lingkungan. (HS)

