Surabaya, metrotvjatim.com : Upaya penurunan angka stunting di Jawa Timur menunjukkan hasil positif dengan capaian prevalensi turun menjadi 14,7 persen. Namun demikian masih ada persolan yang harus ditangani secara serius yakni masih banyaknya pernikahan usia dini di sejumlah daerah di Jawa Timur terutama dikawasan tapal kuda dan malang.
“Meski angka stunting secara umum mengalami penurunan, namun masih ada wilayah dengan kasus stunting relatif tinggi, terutama di kawasan Tapal Kuda dan Malang yang menjadi perhatian pemerintah”, ujar Sukamto, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Perwakilan Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jatim, usai membuka acara Rakorda Program Bangga Kencana Tahun 2026 di Surabaya.
Salah satu faktor yang ikut berkontribusi dalam tingginya kasus stunting tersebut adalah pernikahan usia dini, karena pasangan yang menikah di usia muda umumnya belum memiliki kesiapan secara fisik, mental, maupun pengetahuan terkait kesehatan reproduksi dan pola asuh anak.
“Kondisi tersebut berdampak pada kualitas kehamilan hingga pengasuhan bayi, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, terutama pada periode seribu hari pertama kehidupan, sehingga berpotensi meningkatkan resiko stunting,” ucapnya.
Menurut data di Kota Malang pada tahun 2024, dari 35.674 anak yang menjalani pemeriksaan, 2.842 anak diantaranya berisiko stunting dan 1.648 anak berisiko wasting. Sedangkan pada 2025, dari 34.621 anak yang diperiksa, 2.864 anak diantaranya berisiko stunting dan 1.470 anak berisiko wasting.
Angka tersebut menunjukkan bahwa risiko stunting masih tinggi dan perlu diwaspadai, penanganan stunting tidak bisa hanya berfokus pada pemenuhan gizi, berbagai intervensi juga harus dilakukan, pendekatan lintas sektor, termasuk pengendalian pernikahan dini.
Untuk menekan angka pernikahan usia dini BKKBN Jawa Timur terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK)”, pungkasnya.
Sementara itu, Kepala DP3AK Provinsi Jawa Timur, Sufi Agustini, menyatakan turunnya angka stunting di Jawa Timur adalah hasil dari kolaborasi dengan berbagai pihak, walaupun masih ada daerah yang kasusnya cukup tinggi dan memerlukan perhatian khusus.
DP3AK bekerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota terus menggencarkan edukasi kepada pasangan usia subur melalui berbagai program sosialisasi dan advokasi karena salah satu faktor penyebab stunting adalah minimnya pengetahuan ibu terutama saat masa kehamilan, pendampingan pada seribu hari pertama kehidupan menjadi sangat penting.
Diharapkan dengan berbagai macam intervensi yang dilakukan oleh pemerintah ini, angka stunting di Jawa Timur pada tahun 2026 ini bisa ditekan dan turun.

