Masa arus balik Lebaran 2026 membawa berkah bagi pelaku usaha kuliner di Kabupaten Lamongan. Kudapan khas Wingko Babat menjadi primadona oleh-oleh di jalur Pantura, dengan lonjakan permintaan yang signifikan dari para pemudik.
Antrean panjang pembeli terlihat memadati sejumlah toko wingko di sepanjang Jalan Panglima Sudirman setiap harinya. Para pemudik yang hendak kembali ke kota asal menyempatkan diri berhenti untuk membeli jajanan berbahan dasar kelapa ini.
Salah satu produsen, Bambang Subirawan, pemilik usaha Wingko Sedap Mantab, mengaku kewalahan memenuhi permintaan. Jika pada hari biasa hanya memproduksi dua hingga tiga kilogram adonan, saat arus balik Lebaran produksinya melonjak hingga 25 kilogram per hari.
Meski permintaan meningkat tajam, proses pembuatan tetap mempertahankan cara tradisional dengan waktu pemanggangan sekitar 45 hingga 60 menit agar menghasilkan kualitas terbaik.
Dari berbagai varian rasa seperti nangka dan durian, varian ketan hitam menjadi yang paling diminati karena cita rasanya yang khas. Satu kotak wingko berisi sepuluh buah dijual dengan harga sekitar dua puluh tujuh ribu rupiah.
Tak hanya pemudik lokal, pembeli juga datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Thailand. Bahkan, salah satu pemudik asal Jakarta rela memutar arah demi mendapatkan wingko favoritnya sebagai oleh-oleh untuk keluarga.
Meningkatnya omzet hingga tiga kali lipat ini menjadi bukti bahwa kuliner lokal tetap memiliki daya tarik kuat bagi para pemudik yang melintasi jalur Pantura Lamongan.

