Surabaya, metrotvjatim.com : Prestasi di bidang akademik hingga kompetisi internasional, mulai ditunjukan oleh mahasiswa asal Jawa Timur yang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.
Saat ini, sebanyak 123 mahasiswa asal Jawa Timur yang mendapatkan fasilitasi beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Timur tercatat menempuh pendidikan di perguruan tinggi tersebut.
Direktur Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. M. Mas’ud Said, mengapresiasi langkah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang dinilai serius menyiapkan kader intelektual muslim melalui program beasiswa pendidikan di Al Azhar.
Menurutnya, program tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan ulama muda yang memiliki penguasaan ilmu keislaman, kemampuan akademik, dan wawasan Islam moderat.
Tidak hanya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri, program tersebut juga bertujuan untuk membangun fondasi keilmuan Islam yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dalam jangka panjang.
“Saya baru memahami bahwa ini adalah tanaman kader yang penting dari Khofifah untuk membuat Islam Indonesia masa depan lebih hebat dan terukur,” kata Mas’ud dalam laporannya dari Kairo, Mesir, Minggu (27/9/2026).
Apresiasi tersebut disampaikan Mas’ud usai melakukan kunjungan dan pemantauan mahasiswa Jawa Timur di Kairo bersama tim Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jatim.
Tidak hanya memiliki kemampuan membaca kitab-kitab klasik, mahasiswa asal Jatim di Al Azhar juga mampu bersaing dalam berbagai kompetisi akademik karena mempunyai kemampuan bahasa Arab dan penguasaan literatur Islam klasik yang baik.
Bahkan, sejumlah mahasiswa mulai menghasilkan karya akademik berupa buku, ulasan, hingga artikel ilmiah.
“Sebagian besar mahasiswa yang saya wawancarai di kampus Al Azhar tidak hanya kuat dalam kitab-kitab klasik, tetapi juga tangguh. Sebagian mereka adalah juara di kampusnya dan menang dalam kompetisi internasional dengan persaingan yang ketat,” ujarnya.
“Rata-rata kader memiliki semangat kelas satu. Saya bangga bisa berdiskusi dengan cendekiawan muda yang memiliki pemahaman Al Quran mendalam. Mereka muda, berprestasi, mandiri, dan penuh semangat,” imbuhnya.
Ia menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa pembinaan kader intelektual Muslim melalui pendidikan di Al Azhar mulai memberikan hasil dan mahasiswa asal Jawa Timur memiliki potensi menjadi ulama muda yang menguasai ilmu keislaman sekaligus mampu berkontribusi dalam perkembangan Islam di Indonesia.
Gubernur Khofifah Fasilitasi 123 Mahasiswa
Program beasiswa mahasiswa Jawa Timur di Al Azhar merupakan salah satu upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menyiapkan kader ulama muda yang memiliki kapasitas keilmuan dan reputasi akademik.
Program tersebut telah berjalan sejak 2021 dengan memfasilitasi 123 mahasiswa jenjang S1. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan sarjana di berbagai bidang keislaman, seperti tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, dan sejarah peradaban Islam.
Mas’ud mengatakan, sejak 2025, Pemprov Jatim melalui LPPD juga meningkatkan cakupan program dengan memfasilitasi 60 mahasiswa untuk menempuh pendidikan magister atau S2.
Menurutnya, peningkatan program tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia di bidang keilmuan Islam.
“Setelah berpengalaman beberapa tahun, mulai 2025 Pemprov Jatim melalui LPPD meningkatkan program strategisnya dengan memfasilitasi 60 mahasiswa S2 yang memenuhi syarat. Ini menunjukkan program sudah naik kelas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bidang studi yang ditekuni mahasiswa mencakup tafsir, hadis, ushul fikih, ushuluddin, pengembangan bahasa Arab, hingga studi kebudayaan Islam.
Mas’ud menilai keputusan Khofifah memperluas program beasiswa tersebut menunjukkan komitmen dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, Mas’ud menambahkan, mahasiswa Jawa Timur yang belajar di Al Azhar berasal dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang pendidikan pesantren.
Selain melalui program beasiswa Pemprov Jatim, pengiriman mahasiswa juga dilakukan secara mandiri oleh sejumlah pondok pesantren.Di antaranya Pondok Modern Darussalam Gontor, Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Dalwa Bangil, dan Tebuireng Jombang.
Menurutnya, latar belakang pendidikan pesantren menjadi salah satu modal mahasiswa dalam menguasai literatur Islam klasik dan memperdalam bahasa Arab.
Dalam kunjungannya bersama tim LPPD Jatim, Mas’ud mengaku berdiskusi langsung dengan mahasiswa di sejumlah tempat tinggal mereka di kawasan Kairo.
Ia melihat para mahasiswa menjalani kehidupan sederhana dan mandiri selama menempuh pendidikan di Mesir.
Sebagian mahasiswa bahkan memasak sendiri atau bergotong royong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Sebagian besar mereka produktif, banyak menjadi juara baca kitab klasik, meresensi buku utama para syaikh Al Azhar, dan menerjemahkan berbagai kitab penting,” ungkapnya.
Mas’ud mengatakan keberhasilan program beasiswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan, tetapi juga oleh pendampingan dan evaluasi yang berkelanjutan.
Karena itu, Pemprov Jatim melalui LPPD melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan mahasiswa, baik dari sisi akademik maupun nonakademik.Evaluasi tersebut mencakup pendampingan penulisan ilmiah, pemeriksaan kesehatan, kemampuan menulis, hingga pemantauan kelulusan tepat waktu.
Menurut Mas’ud, pendampingan tersebut diperlukan untuk memastikan mahasiswa dapat menyelesaikan studi dengan baik dan memiliki bekal keilmuan yang kuat.Ia mengapresiasi upaya Khofifah yang tidak hanya memfasilitasi pendidikan mahasiswa, tetapi juga memperkuat pembinaan agar mereka dapat berkembang menjadi ulama muda yang berprestasi dan berwawasan luas.
“Saya yakin kader-kader ini akan mewarnai Islam Indonesia lima hingga sepuluh tahun mendatang, serta menguatkan transformasi kebudayaan unggul yang kita tunggu-tunggu,” katanya.Mas’ud berharap program tersebut dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak kader intelektual Muslim dari Jawa Timur yang memiliki kemampuan akademik dan keilmuan Islam berstandar internasional.(*)

