Tulungagung, metrotvjatim.com : Menjelang perayaan Hari Raya Iduladha, perajin tusuk sate di Kabupaten Tulungagung kebanjiran pesanan hingga dua kali lipat dibanding hari biasa. Tingginya permintaan membuat para perajin kewalahan memenuhi pesanan pasar.
Salah satu perajin tusuk sate, Sukamto, warga Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, mengaku sudah menekuni usaha pembuatan tusuk sate selama 10 tahun terakhir.
Menjelang Iduladha, jumlah pesanan tusuk sate meningkat tajam dibandingkan hari-hari normal.
Dalam proses produksinya, Sukamto menggunakan mesin rakitan sendiri untuk mempermudah pekerjaan sekaligus menekan biaya produksi. Proses pembuatan tusuk sate dilakukan melalui delapan tahapan, mulai dari pemilahan bambu, pemotongan, penjemuran, hingga proses peruncingan dan pengemasan.
Menariknya, seluruh proses produksi masih dikerjakan sendiri tanpa bantuan tenaga kerja tambahan.
Dalam satu hari, Sukamto mampu memproduksi sekitar 20 ribu hingga 25 ribu tusuk sate. Namun jumlah tersebut masih belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar menjelang Iduladha.
Meski permintaan meningkat signifikan, harga jual tusuk sate tetap stabil, yakni Rp16 ribu untuk setiap 1.000 batang.
Selain pada momentum Iduladha, permintaan tusuk sate juga meningkat saat Idulfitri dan musim hajatan. Menurut Sukamto, tantangan terbesar dalam proses produksi adalah faktor cuaca. Proses penjemuran yang masih mengandalkan sinar matahari membuat produksi terhambat saat musim hujan, sehingga ia harus menggunakan oven sebagai solusi alternatif.

