Tuban, metrotvjatim.com : Kenaikan harga kedelai impor dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada pelaku usaha kecil di Kabupaten Tuban. Para perajin tempe kini harus mencari cara agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan.
Selain harga kedelai impor yang terus meningkat, biaya bahan pendukung produksi seperti plastik kemasan juga ikut mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut dirasakan oleh Tri Mulyani, perajin tempe asal Kelurahan Sukolilo, Tuban. Perempuan yang telah menjalankan usaha tempe selama sekitar 20 tahun itu mengaku biaya produksi terus membengkak dalam beberapa waktu terakhir.
Meski harga bahan baku naik, Tri memilih tidak menaikkan harga jual tempe karena khawatir pelanggan beralih ke pedagang lain. Sebagai solusi agar usaha tetap bertahan, ukuran tempe yang dijual terpaksa diperkecil.
Setiap hari, Tri bersama dua orang karyawannya mampu memproduksi sekitar 75 hingga 80 kilogram tempe. Hasil produksinya dipasarkan ke Pasar Baru Tuban dan sejumlah pelanggan tetap.
Proses pembuatan tempe membutuhkan waktu hingga tiga hari, mulai dari perebusan kedelai, perendaman semalaman, penggilingan, pencucian, hingga proses fermentasi sebelum siap dijual ke pasaran.
Di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku, para perajin tempe berharap harga kedelai impor kembali stabil agar usaha kecil mereka tetap bisa bertahan.

