Surabaya, metrotvjatim.com – Pertamina Patra Niaga memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) di Jawa Timur dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Hal tersebut tersebut disampaikan oleh Pjs. EGM Regional Jatimbalinus Melissa Yolanda usai rapat pengendalian dan pemantauan kelancaran penyaluran BBM dan LPG bersama Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (16/10) malam.
Pjs. EGM Regional Jatimbalinus Melissa Yolanda menegaskan bahwa stok BBM di Jawa Timur dalam kondisi aman. Menurutnya, situasi global sempat memengaruhi kelancaran penyaluran. Meski demikian, Pertamina terus berupaya memulihkan distribusi agar kembali normal.
“Stok BBM kami pastikan aman. Hari ini dan besok, insyaallah, ada tiga kapal yang siap bongkar sehingga stok akan meningkat,” ujarnya.
Berdasarkan data Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus per 16 Oktober 2026, stok Pertalite tercatat sekitar 35 ribu kiloliter (KL), Pertamax sekitar 10 ribu KL, dan Biosolar sekitar 35 ribu KL.
Sementara itu, proyeksi stok selama periode 16–31 Oktober menunjukkan ketersediaan pasokan pada kisaran 145–150 ribu KL untuk Pertalite, 110–115 ribu KL untuk Pertamax, dan 140–160 ribu KL untuk Biosolar.
Melissa menambahkan, pasokan dari Jawa Tengah turut mendukung upaya menjaga kelancaran distribusi BBM di Jatim. Pertamina juga akan memprioritaskan penyaluran ke SPBU yang mengalami kendala agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Dari sisi penyaluran, rata-rata distribusi harian Pertalite di Jawa Timur pada 2026 tercatat sebesar 10.953 KL per hari. Adapun rata-rata penyaluran Solar/Biosolar mencapai 7.317 KL per hari.
“Penyaluran akan kami prioritaskan kepada masyarakat, terutama SPBU yang membutuhkan,” ucapnya.
Sementara itu Wakil Gubenur Jatim Emil Elestianto dardak mengatakan pemerintah tetap melakukan deteksi dini terhadap potensi gangguan penyaluran di sejumlah SPBU. Langkah ini menyusul adanya antrean dan kekosongan stok pada jam-jam tertentu di beberapa lokasi.
“Kita mencoba deteksi dini di beberapa titik. Memang ada kecenderungan antrean dan juga ada kecenderungan di SPBU tertentu stoknya tidak ada pada jam tertentu,” ujar Emil.
Dari hasil pantauan di lapangan, ia menjelaskan bahwa kendala yang terjadi bukan semata-mata berkaitan dengan ketersediaan stok, melainkan juga distribusi BBM ke SPBU.
“Yang kita pastikan adalah distribusi ke SPBU terus kita dorong agar berjalan lancar. Ketika ada SPBU yang mengalami kekosongan pada jam tertentu, pasokan harus segera diupayakan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Karena itu, kita lakukan deteksi dini dan koordinasi dengan Pertamina supaya kendala di lapangan bisa segera ditangani,” katanya.
Emil menambahkan, Pertamina telah menyiapkan sejumlah langkah guna mempercepat penyaluran BBM, termasuk memperpanjang jam operasional terminal yang biasanya 12 jam ditingkatkan menjadi 24 jam dan menambah armada angkutan.
Selain itu, Pertamina juga mengoptimalkan jaringan terminal dan jalur distribusi agar pasokan dari lokasi lain dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan SPBU yang mengalami kendala.
Ia menjelaskan, jaringan terminal BBM di Jatim terhubung dengan terminal di Boyolali dan Semarang, Jawa Tengah. Di Jawa Timur, terminal BBM berada di Tuban, Madiun, Camplong, Tanjungwangi, Malang, dan Surabaya.
“Untuk Surabaya, Tanjungwangi, dan Tuban, pengiriman bisa melalui jalur laut maupun darat. Pasokan dari Tuban ke Surabaya juga bisa disalurkan melalui pipa dan kereta api. Jadi, ada beberapa jalur yang bisa dimanfaatkan untuk memastikan pasokan BBM sampai ke SPBU,” jelasnya.
Pengalihan pasokan juga dilakukan secara langsung ke SPBU yang membutuhkan. Misalnya pengiriman BBM dari Fuel Terminal Tuban ke delapan SPBU dengan volume sekitar 150 KL. Sementara dari Fuel Terminal Madiun, pasokan dialihkan ke 26 SPBU dengan volume sekitar 350 KL. (Suy)

