Musi Banyuasin: Masifnya kasus kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, memicu penurunan kualitas udara secara drastis. Kepulan kabut asap pekat yang merusak wilayah tersebut juga berdampak pada buruknya tren penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Hingga saat ini, Musi Banyuasin menjadi salah satu wilayah di Sumatera Selatan yang paling sering dilanda kebakaran lahan. Luasan wilayah yang terbakar bahkan dilaporkan telah meluas hingga lebih dari 1.000 hektare. Kondisi ini menyebabkan indeks kualitas udara di wilayah tersebut terperosok ke dalam kategori tidak sehat.
Dampak buruk kualitas udara ini berbanding lurus dengan krisis kesehatan masyarakat. Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin Ardiansyah mengungkapkan, persentase penderita ISPA meningkat hingga 9 persen, dengan total penderita melebihi angka 30.000 orang terhitung sejak awal tahun.
“Memang ada peningkatan kurang lebih 9 persen akibat dampak dari asap karhutla ini, kurang lebih mencapai 30.000 kasus dari awal tahun. Kemarin sempat terjadi penurunan karena hujan, namun kini ada kenaikan lagi karena titik api di beberapa lokus kecamatan bertambah sehingga asap kembali parah dan masyarakat mengalami gangguan pernapasan,” jelas Ardiansyah, dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Rabu 21 Oktober 2026.
Menanggapi tingginya angka tersebut, Bupati Musi Banyuasin, M Toha Tohet, mengizinkan penempatan kasus ISPA di wilayahnya, namun ia memastikan belum ada laporan fatalitas akibat kondisi ini. “Dampaknya kalau dari tahun ini ISPA sudah mencapai 30.000, tapi tidak ada yang sampai meninggal dunia, enggak ada itu,” tegas M Toha Tohet.
Merespons status udara yang tidak sehat dan darurat pernapasan di tengah masyarakat, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin telah meningkatkan intensitas pembagian masker secara gratis.
Di samping itu, untuk menjamin penanganan medis yang cepat dan tepat, pemerintah daerah juga telah menginformasikan seluruh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan rumah sakit di wilayah terdampak untuk bersiaga penuh selama 24 jam melayani pasien ISPA.

