Kabupaten Blitar, Metrotvjatim.com – Dampak fenomena El Nino yang mengakibatkan panjangnya musim kemarau kali ini, mulai dirasakan pembudidaya ikan koi di Kabupaten Blitar. Keterbatasan air membuat aktivitas budidaya terganggu, mulai dari perawatan kolam hingga proses panen. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko serangan penyakit yang berujung pada penurunan hasil panen.
Seperti yang diungkapkan Hendi, warga Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Ia menuturkan kekurangan air menjadi persoalan utama yang dihadapi pembudidaya koi. Selain kesulitan mendapatkan pasokan air, pembudidaya juga harus menyesuaikan waktu panen dengan kondisi cuaca.
Menurutnya, perubahan kondisi air akibat keterbatasan pasokan membuat ikan lebih rentan terserang penyakit, terutama jamur. Dampaknya, hasil panen ikan koi mengalami penurunan hingga sekitar 40 persen dibandingkan kondisi normal.
“Dampak El Nino sangat parah untuk budidaya ikan koi. Pertama, air susah. Kemudian, panen juga harus menunggu cuaca yang tepat. Ikan juga rentan terkena penyakit karena air sudah berganti dan jumlahnya kurang. Penyakit utamanya jamur,” ujar Hendi.
Ia menyebut kondisi saat ini berbeda jauh dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Jika dahulu pembudidaya masih bisa melakukan panen secara rutin, kini mereka harus menghadapi berbagai kendala yang memengaruhi produktivitas ikan.
“Penurunan panen sekitar 40 persen. Tahun lalu kita masih bisa panen rutin. Bahkan, sekitar tiga tahun lalu tidak ada penyakit seperti ini,” ungkapnya.
Hendi menggambarkan, kondisi tersebut membuat proses budidaya tidak lagi berjalan mudah. Keterbatasan air dan munculnya penyakit menjadi tantangan yang harus dihadapi pembudidaya sejak perawatan hingga menjelang panen.
Ia bahkan mengibaratkan ikan yang dipanen saat ini sudah lebih dahulu mengalami tekanan akibat kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
“Sekarang kita panen ikannya sudah trauma duluan,” katanya.
Lebih jauh, Hendi menilai persoalan kekurangan air tidak hanya dialami oleh satu atau dua pembudidaya. Di sejumlah wilayah Blitar, kondisi tersebut turut berdampak pada keberlangsungan usaha budidaya ikan koi.
“Sekarang secara keseluruhan di Blitar ini banyak kolam terbengkalai karena kekurangan air,” pungkasnya.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pembudidaya ikan koi untuk mempertahankan produktivitas di tengah keterbatasan air. Jika kondisi tersebut berlanjut, keberlangsungan usaha budidaya berpotensi semakin tertekan, terutama bagi pembudidaya yang bergantung pada ketersediaan air untuk menjaga kualitas kolam dan kesehatan ikan. (Aga)

