Kota Malang, Metrotvjatim.com – Ketika Sepak bola, musik hardcore punk, dan aksi kemanusiaan berpadu dalam satu panggung di Kota Malang. Lewat gelaran PS Namoy Cup, komunitas PS Namoy tidak hanya merayakan ulang tahun ketiganya dengan turnamen olahraga dan pertunjukan musik, tetapi juga menggalang solidaritas untuk anak-anak penyintas kanker.
Mengusung tema “For The Children”, kegiatan ini menjadi bukti bahwa olahraga dan musik dapat menjadi medium efektif untuk menyuarakan kepedulian sosial. Seluruh keuntungan dari penyelenggaraan PS Namoy Cup didonasikan kepada komunitas Sahabat Anak Kanker, lembaga yang mendampingi pasien anak dengan kanker dan penyakit kronis di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Project Manager PS Namoy Cup, Rama Charis, menjelaskan bahwa kegiatan ini berawal dari keinginan anggota komunitas untuk merayakan tiga tahun perjalanan PS Namoy melalui aksi yang berdampak lebih luas.
”Awalnya teman-teman ingin membuat perayaan mini soccer saja. Kemudian muncul ide untuk menggabungkannya dengan gigs musik hardcore punk. Sejak awal, kami memang ingin membuat acara charity, sehingga profitnya nanti disalurkan kepada pihak yang membutuhkan,” ujar Rama.
Rangkaian PS Namoy Cup dimeriahkan oleh turnamen mini soccer yang diikuti 12 tim asal Malang dan Mojokerto dengan total sekitar 170 peserta. Kompetisi juga makin seru dengan adanya format 3 vs 3 street soccer.
Di panggung musik, enam band hardcore punk turut membakar semangat penonton, yaitu Pain Embrace, Severance Core, Keep It Real, Stomper Boots, Glich Pow, Still Broken, dan Dazzle. Selain musik dan olahraga, acara ini diwarnai aktivasi mural oleh McEvan, lapak zine dari Malang Fanzine, serta empat tenant UMKM.
Rama menambahkan, pemilihan Sahabat Anak Kanker sebagai penerima donasi dilakukan setelah berdiskusi dengan jejaring komunitas lokal. Di RSSA Malang, terdapat puluhan anak penyintas kanker dan penyakit kronis yang membutuhkan perhatian serta pendampingan khusus.
”Harapannya, kegiatan ini bisa membangun awareness bahwa di Kota Malang ada adik-adik penyintas kanker yang mungkin belum banyak mendapat perhatian. Kami ingin mengajak lebih banyak orang melihat bahwa mereka juga membutuhkan dukungan,” jelasnya.
Berdiri sejak tahun 2023 di Kota Malang, PS Namoy tumbuh dari ruang perkopian dan kecintaan bersama terhadap sepak bola. Komunitas ini konsisten membuka ruang kolaborasi dengan berbagai elemen kreatif, mulai dari band, komunitas lokal, hingga pemerek (brand).
Bagi PS Namoy, kolaborasi ini bukan sekadar konsep perayaan agar terlihat menarik, melainkan bentuk penerapan nilai solidaritas dan kepedulian sosial yang melekat dalam kultur hardcore punk maupun kolektivisme sepak bola.
”Menurut kami, kita bisa melakukan banyak hal kalau punya solidaritas. Sepak bola dan musik punya semangat yang sama untuk mempertemukan orang-orang. Kami ingin energi itu juga bisa dirasakan oleh adik-adik yang sedang berjuang melawan penyakitnya,” pungkas Rama.
Melalui PS Namoy Cup, tiga tahun perjalanan komunitas ini dirayakan dengan cara berbeda, membuktikan bahwa energi kolektif dapat diubah menjadi bantuan nyata, sebab solidaritas tak cukup hanya diteriakkan, tetapi harus diwujudkan dalam aksi.
Bagi PS Namoy, kolaborasi antara sepak bola, musik hardcore punk, dan kegiatan amal bukan sekadar konsep untuk membuat perayaan lebih menarik. Ada nilai solidaritas yang ingin dibawa melalui pertemuan berbagai komunitas tersebut. Semangat yang selama ini melekat dalam kultur hardcore punk, yakni kepedulian dan keberpihakan terhadap sesama, menjadi salah satu landasan kegiatan ini. (Aga)

