Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia membuka potensi menaikkan kuota produksi batu bara , sebab telah terjadi perbaikan harga komoditas batu bara.
“Batu bara kan sekarang sudah bagus nih, idealnya kan harganya bagus, produksinya banyak,” ujar Bahlil ketika ditemui setelah pembukaan Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 yang digelar di Jakarta, dikutip dari Antara , Selasa, 3 November 2026.
Bahlil yang merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan dalam pemberian kuota produksi batu bara dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), pemerintah akan antara permintaan dan pasokan atau supply and demand.
Ia Merujuk pada tahun 2025, ketika kontribusi Indonesia terhadap peredaran batu bara dunia mencapai 540 juta ton dari batu bara yang diperjualbelikan sebesar 1,3 miliar ton per tahun.
“Apa yang terjadi? Harga batu bara di tahun 2025 pada harga yang paling rendah. Keuntungan perusahaannya tidak terlalu banyak, pendapatan negara tidak terlalu maksimal, jor-joran kita buka lahan yang begitu besar, akhirnya barang kita dijual murah,” ujar Bahlil.
Merespons rendahnya harga batu bara, Bahlil juga menerapkan sejumlah kebijakan, seperti menaikkan harga batu bara acuan (HBA) hingga memangkas produksi batu bara.
“Hari ini, harga batu bara bisa mencapai USD154 per ton untuk kalori tinggi. Strategi ini karena kita menjaga pasokan dan permintaan. Pendapatan negara kita melonjak, produksi turun,” ujar Bahlil.
Rata-rata produksi batu bara tahun ini turun
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minerba, produksi batu bara sepanjang tahun 2025 mencapai 817,48 juta ton, sedangkan produksi hingga Juli 2026 tercatat 423,71 juta ton atau rata-rata sekitar 60,5 juta ton per bulan.
Rata-rata produksi tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata produksi 2025 yang sekitar 68,1 juta ton per bulan.
Akan tetapi, PNBP pada komoditas batu bara yang tercatat hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp66 triliun, meningkat dibandingkan Rp59 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kemudian berdasarkan data terbaru Kementerian ESDM, produksi batu bara tercatat 566,74 juta ton atau 77 persen dari target. Lebih lanjutnya, realisasi nilai ekspor batu bara mencapai USD23,49 juta dari 343,08 juta ton.
“Jadi, RKAB kita lakukan untuk sektor batu bara dengan memperhatikan supply and demand. Idealnya, produksi kita banyak, harganya bagus. Idealnya,” ucap Bahlil.

