Sidoarjo, Metrotvjatim.com- Direktur Utama PT Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa stok beras nasional dalam kondisi aman dan mencukupi hingga Juli 2027. Cadangan yang melimpah ini dinilai mampu menjaga ketahanan pangan Indonesia dari ancaman fenomena iklim El Nino maupun potensi paceklik berkepanjangan.
Ahmad Rizal menyampaikan hal tersebut dalam acara syukuran atas melampauinya target serapan beras nasional tahun 2026 di pergudangan Bulog Desa Banjar Kemantren, Buduran, Sidoarjo, Senin (12/10). Dari target serapan sebesar 4 juta ton setara beras, Bulog berhasil menyerap hingga 4.112.000 ton atau setara dengan 102,8% (sekitar 103%) dari target. Target itu sendiri yang diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2026.
”Realisasi serapan beras kita sudah melampaui target Inpres. Sebagai bentuk rasa syukur, stok ini kita persiapkan dengan matang karena sejak awal tahun kami sudah mengantisipasi adanya ancaman El Nino dan masa paceklik yang berpotensi meluas,” ujar Ahmad Rizal.
Ia mengungkapkan, langkah penyerapan beras secara masif dilakukan oleh jajaran Bulog bersama para pemangku kepentingan di lapangan sejak awal tahun. Puncak stok cadangan beras Bulog sempat menyentuh angka 5,4 juta ton pada pertengahan September.
Saat ini, Bulog menguasai stok cadangan beras sebesar 4,5 juta ton. Jumlah tersebut ditambah dengan estimasi cadangan beras di masyarakat (seperti di rumah tangga, hotel, restoran, dan ritel) sekitar 10 juta ton, serta perkiraan hasil panen nasional yang mencapai 9 hingga 10 juta ton di tengah dampak El Nino.
Dengan demikian, total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai 24,5 juta ton. Sementara itu, tingkat konsumsi beras masyarakat Indonesia berada di angka 2,2 juta ton per bulan.
”Hitungan kami, dengan kebutuhan 2,2 juta ton per bulan, total stok yang ada cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga Juli 2027. Bahkan pada Juli 2027 nanti, kita diperkirakan masih memiliki sisa cadangan sekitar 2 juta ton, sebelum memasuki puncak panen berikutnya pada Maret-April 2027,” terangnya.
Ketersediaan stok yang kuat ini memungkingkan pemerintah untuk menyalurkan bantuan pangan tambahan kepada masyarakat pada bulan Oktober, November, dan Desember.
Ahmad Rizal menambahkan bahwa keberhasilan penyerapan beras tanpa perlu bergantung pada impor di tahun 2026 menjadi indikasi kuat keberlanjutan swasembada pangan Indonesia. Hal ini menjadi sangat krusial mengingat negara-negara produsen beras seperti India, Vietnam, dan Thailand saat ini juga mengalami penurunan produksi hingga 30% akibat kondisi iklim global.
”Masyarakat tidak perlu cemas atau ragu. Stok pangan kita terjamin, aman, dan kebutuhan nasional dipastikan terpenuhi,” pungkasnya. (HS)

