Malang, Metrotvjatim.com- Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( TNBTS ) menggunakan pesawat nirawak atau drone untuk memetakan secara lebih presisi luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan konservasi Bromo dan Semeru.
Teknologi pemetaan udara tersebut digunakan untuk membantu proses pendataan area yang terdampak kebakaran. Data hasil pemantauan drone akan dipadukan dengan peta digital untuk memperoleh perhitungan luas kawasan terbakar secara lebih akurat.
Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Bambang Suriyono, mengatakan penghitungan sementara hingga 27 Agustus 2026 menunjukkan area terbakar di kawasan Semeru mencapai sekitar 170 hektare.
“Sampai pada hari kemarin tanggal 27 Agustus 2026 penghitungan sementara dari kami luas area terbakar sekitar 170 hektar,” kata Bambang, Kamis, 28 Agustus 2026.
Menurut Bambang, penghitungan tersebut masih akan diperbarui seiring proses pemetaan yang dilakukan tim di lapangan. Analisis menggunakan drone akan dikombinasikan dengan data spasial untuk memperbarui luasan area yang terdampak karhutla.
Pemetaan mencakup titik-titik kebakaran di kawasan TNBTS yang berada di sejumlah wilayah kabupaten terdampak. Pembaruan data akan dilakukan secara berkala untuk mengetahui perkembangan luas kawasan yang terbakar, baik di wilayah Semeru maupun Bromo.
“Luas ini akan kami update terus dan saat ini tim kami sedang melakukan penghitungan dengan menggunakan drone maupun dengan memadukan dengan peta sehingga nantinya akan dilakukan update setiap hari dengan total area yang terbakar untuk area Semeru maupun di area Bromo khususnya di Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan,” terang Bambang.
Penanganan kebakaran di kawasan TNBTS dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur. Petugas gabungan bersama elemen masyarakat turut dikerahkan untuk menangani kebakaran di sejumlah titik.
Bambang menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang ikut membantu proses pemadaman, mulai dari BPBD Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang, TNI, Polri, hingga pemandu Gunung Semeru yang tergabung dalam PPGST serta sekitar kawasan masyarakat terdampak.
“Kami dari TNBTS mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam upaya pemadaman termasuk BPBD dari Kabupaten masing-masing baik Probolinggo, Pasuruan maupun Lumajang. Kemudian TNI Polri dan tentunya para komando yang tergabung dalam PPGST, pemandu Gunung Semeru dan tak lupa warga sekitar, warga khususnya di Ranupani, di Desa Argosari dan juga di desa di Kabupaten Pasuruan maupun Probolinggo,” ujar Bambang.
Pendakian Ranu Kumbolo Ditutup
TNBTS juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran selama kondisi kemarau dan kawasan berada dalam kondisi kering.
Salah satu dampak penanganan karhutla yakni penutupan sementara kunjungan ke Ranu Kumbolo. Kebijakan tersebut juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan wisata.
“umum Kami mengharapkan kepada semua masyarakat karena mengingat sekarang masa kemarau dan sangat kering untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan kebakaran yang dapat mengakibatkan kerugian pada semua pihak karena dengan kebakaran ini sementara kunjungan ke Ranu Kumbolo kami tutup dan itu bisa berdampak pada ekonomi masyarakat di sekitar,” tegas Bambang, Kamis, 28 Agustus 2026.
Pengelola TNBTS masih memprioritaskan penyelesaian proses pemadaman sebelum akses pendakian menuju Ranu Kumbolo kembali dibuka.
Bambang meminta dukungan masyarakat agar penyelesaian kebakaran dapat segera diselesaikan dan jalur pendakian Semeru dapat digunakan kembali.
“Mohon dukungan dan doanya agar pemadaman ini dapat diselesaikan dan jalur di pendakian Semeru sampai ke Ranu Kumbolo dapat dibuka kembali,” tutup Bambang

