Bojonegoro, Metrotvjatim.com- Rencana pengembangan teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) di Lapangan Migas Sukowati, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dinilai berpotensi memperpanjang risiko industri migas bagi masyarakat sekitar.
Temuan itu disampaikan dalam riset Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) yang dirilis belum lama ini. JATAM menyebut proyek CCUS yang dipromosikan sebagai bagian dari agenda dekarbonisasi justru berpotensi memperpanjang umur industri migas dan menambah beban risiko yang selama ini ditanggung warga.
Lapangan Sukowati merupakan salah satu proyek CCUS yang saat ini masuk tahap pengembangan di Indonesia. Teknologi ini dikembangkan dengan skema CO2-Enhanced Oil Recovery (CO2-EOR), yakni penyuntikan karbon dioksida ke dalam reservoir untuk mendorong keluarnya sisa minyak.
Dengan skema tersebut, fungsi CCUS di Sukowati tidak lepas dari target peningkatan produksi dan perpanjangan masa operasi lapangan migas yang telah menua.
JATAM mencatat, sejak 2006 hingga 2025 di sekitar lapangan Sukowati telah terjadi berulang kali insiden kebocoran gas hidrogen sulfida (H2S), ledakan sumur, kebakaran, hingga semburan lumpur. Insiden tersebut menimbulkan gangguan kesehatan seperti mual, pusing, sesak napas, hingga warga harus mengungsi.
Riset juga menemukan penurunan kualitas lingkungan di sekitar area operasi. Hasil pengujian kualitas air di sekitar Pad-B menunjukkan nilai Total Dissolved Solids (TDS) mencapai 740 ppm, dan pada kran air warga sekitar 616 ppm. Angka itu melampaui baku mutu air minum sebesar 500 ppm sesuai Permenkes Nomor 2 Tahun 2023.
Selain air, pemantauan kualitas udara juga menemukan keberadaan karbon monoksida (CO) di sejumlah titik operasi.
Aspek lain yang disoroti adalah minimnya keterbukaan informasi. Warga dan pemerintah desa di sekitar lokasi mengaku tidak pernah mendapat penjelasan memadai mengenai cara kerja CCUS, risiko yang mungkin muncul, serta prosedur tanggap darurat jika terjadi kegagalan sistem.
JATAM menilai kondisi itu membuat masyarakat menjadi pihak yang menanggung risiko tanpa memiliki akses informasi yang cukup untuk melakukan pengawasan.
Atas temuan tersebut, JATAM meminta Pemerintah, SKK Migas, dan Pertamina menghentikan penggunaan narasi dekarbonisasi untuk membenarkan proyek CCUS di Blok Sukowati.
“CCUS tidak dapat dipandang semata sebagai teknologi pengurangan emisi. Di Sukowati, teknologi ini dijalankan di atas wilayah yang telah lama menanggung dampak sosial, kesehatan, dan lingkungan akibat operasi migas,” tulis JATAM dalam siaran persnya.
JATAM menegaskan, upaya menghadapi krisis iklim tidak dapat ditempuh melalui solusi yang mempertahankan ekstraksi minyak dan gas, melainkan harus melalui pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil dan perlindungan ruang hidup masyarakat. (Byu)

