Gresik, metrotvjatim.com : Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Gresik menolak gugatan praperadilan yang diajukan dua tersangka pembuat aplikasi Matel (Mata Elang) yang sempat viral karena diduga menyebarkan data pribadi debitur.
Hakim menilai penangkapan dan penetapan tersangka telah dilakukan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Putusan tersebut dibacakan dalam sidang praperadilan yang digelar di PN Gresik, Senin, 2 Februari 2026.
Dua tersangka tersebut yakni Freddy Eka Purnama (39), warga Desa Yosowilangun, Kecamatan Manyar, Gresik dan Muhammad Jamaludin Kaffi (36), warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.
Ketua Majelis Hakim, Etri Widayati menyatakan, eksepsi pemohon tidak dapat diterima dan dalam pokok perkara permohonan praperadilan dinyatakan ditolak.

“Mengadili, dalam eksepsi menyatakan eksepsi pemohon tidak diterima dan dalam pokok perkara menyatakan permohonan praperadilan pemohon ditolak,” ujar Etri Widayati saat membacakan putusan, Senin, 2 Februari 2026.
Majelis hakim menilai, berdasarkan keterangan para saksi dan saksi ahli, tindakan termohon dalam proses penyidikan telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Kepala Kepolisian (Perkap) Nomor 6 Tahun 2019 dan Perkap Nomor 1 Tahun 2025.
Selain itu, proses penangkapan teraebut dinilai telah dilengkapi surat perintah penyidikan serta penetapan tersangka didukung alat bukti dan keterangan saksi yang sah.
“Termasuk dalam hal penangkapan dan penetapan tersangka telah sesuai prosedur hukum yang berlaku,” tambah hakim Etri.
Sementara itu, pihak termohon dari Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Satreskrim Polres Gresik yang diwakili Kasubsi Bankum Polres Gresik, Aiptu Dedi Dariyanto menyatakan menghormati putusan majelis hakim.
“Kami menghormati putusan majelis hakim dan akan berkoordinasi dengan pimpinan untuk langkah selanjutnya,” katanya.
Sebelumnya, dua tersangka pembuat aplikasi Matel mengajukan gugatan praperadilan ke PN Gresik. Keduanya menilai proses penyidikan hingga penetapan tersangka tidak sah.
Kuasa hukum pemohon, Abdul Syakur menyebut, gugatan diajukan karena adanya dugaan cacat prosedur sejak tahap penangkapan hingga penetapan tersangka. Ia mengatakan kliennya ditangkap pada 17 Desember 2025 terkait penggunaan aplikasi Gomatel–Data R4 Telat Bayar yang dikembangkan PT Brinkul Indonesia Bisa.

