Pasuruan, metrotvjatim.com : Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terjun langsung meninjau banjir di Dusun Bandaran, Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, sekaligus memastikan keselamatan warga serta mempercepat penanganan dampak banjir melalui berbagai langkah konkret di lapangan.
Khofifah menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama seluruh jajaran terus bersiaga dan berkoordinasi untuk memastikan keselamatan warga menjadi prioritas utama, sekaligus mempercepat proses penanganan bencana.
“Pemprov Jatim bersama seluruh jajaran terus bersiaga dan berkoordinasi untuk memastikan keselamatan warga serta percepatan penanganan dampak banjir. Dan kami juga minta masyarakat tetap berhati-hati, keselamatan menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Sebagai bagian dari respons cepat, BPBD Jatim bersama BPBD Kabupaten Pasuruan telah melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari assessment, distribusi logistik, penyediaan tenda pengungsian, hingga pengerahan perahu untuk membantu mobilitas warga di wilayah terdampak.
Khofifah menjelaskan bahwa banjir yang terjadi dipicu oleh tingginya intensitas hujan serta luapan anak-anak sungai di wilayah tersebut, diperparah dengan kondisi geografis dataran rendah sehingga air mudah menggenang.
“Ini diperkirakan akhir hidrometeorologi, setelah ini diperkirakan kemarau panjang, jadi semua harus membangun kewaspadaan. Banjir disini karena intensitas hujan yang tinggi kemudian meluber karena kebetulan ini dataran rendah. Kalau saya menyebut ini genangan karena ini sebenarnya aliran dari anak-anak sungai yang ada disekitar sini,” kata Khofifah.
Untuk itu Pemprov Jatim bersama Pemkab Pasuruan telah menyiapkan 10 pompa air, enam diantaranya enam milik Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jatim dan empat milik Pemkab setempat, guna mengalirkan genangan keluar dari permukiman warga.
Namun tidak semuanya dapat dioperasikan secara maksimal pada saat puncak banjir karena ketinggian air di sungai sama dengan daratan sehingga menunggu sungai surut baru bisa dipompa.
Gubernur Khofifah mengatakan, salah satu tantangan utama penanganan banjir di Rejoso ini adalah karena banyaknya anak sungai. Dimana ketinggian air sungai sejajar dengan air yang menggenangi daratan.
”Kendalanya ada anak sungai yang tingginya air di sungai saat ini sama dengan tingginya air yang ada didaratan. Sehingga kalau kita mau memompa itu menunggu surutnya air sungai supaya proses pemompaan bisa efektif,” imbuhnya.
Bencana banjir ini juga mengakibatkan gagal panen atau puso karena lahan pertanian milik warga terendam banjir. Untuk itu pihak Pemprov Jatim akan memberikan bantuan benih kepada para petani terdampak.

