Chicago: Harga emas dunia menguat pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan dan memberikan sinyal mengenai kemungkinan kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.
Mengutip Investing.com, Kamis, 17 September 2026, harga emas spot naik 0,9 persen menjadi USD4.330,19 per ons. Harga emas sempat melonjak hingga 1,6 persen ke sekitar USD4.365,57 per ons pada awal perdagangan. Sementara itu, harga emas berjangka naik 1,2 persen menjadi USD4.385,59 per ons.
Kedua kontrak tersebut sebelumnya mengalami penurunan dalam beberapa sesi perdagangan seiring meningkatnya ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter The Fed.
The Fed kerek suku bunga
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen sampai 4,00 persen dari sebelumnya 3,50 persen hingga 3,75 persen.
Keputusan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Juli 2023. Kebijakan ini juga menjadi langkah perubahan kebijakan moneter setelah The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2025.
Kenaikan suku bunga umumnya memberikan tekanan terhadap aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas. Suku bunga yang lebih tinggi juga berpotensi mendukung penguatan dolar AS sehingga emas menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Menjelang keputusan The Fed, ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat seiring data ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan yang masih tangguh, pasar tenaga kerja yang kuat, serta inflasi yang tinggi.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian The Fed, tercatat naik 3,7 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar 2 persen. PCE juga telah berada di atas level 2 persen selama 65 bulan berturut-turut.
Pasar pantau arah suku bunga
Pelaku pasar logam mulia kini mencermati apakah kenaikan suku bunga tersebut hanya berlangsung satu kali atau menjadi awal dari siklus pengetatan kebijakan moneter.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan setidaknya masih terdapat satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini. Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP) terbaru The Fed juga menjadi perhatian untuk melihat arah kebijakan moneter selanjutnya.
Investor turut mencermati konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh setelah keputusan suku bunga. Pasar melihat kemungkinan Warsh memberikan petunjuk mengenai kebijakan berikutnya atau tetap menghindari panduan ke depan.
Warsh sebelumnya menyampaikan pandangan mengenai kebijakan moneter dan inflasi dalam konferensi Jackson Hole pada Agustus. Pada saat yang sama, The Fed juga menghadapi tekanan politik untuk menurunkan suku bunga, termasuk dari Presiden Donald Trump.
Di luar kebijakan The Fed, pergerakan harga minyak turut menjadi perhatian pasar emas pada Rabu. Harga minyak mentah Brent, patokan global, turun 2,8 persen menjadi USD105,72 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,1 persen menjadi USD102,55 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi seiring meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan. Arab Saudi dilaporkan menawarkan tambahan muatan minyak mentah kepada kilang-kilang di Asia melalui transfer antarkapal di lepas pantai Sohar, Oman.
Data American Petroleum Institute juga menunjukkan kenaikan tidak terduga dalam persediaan minyak mentah AS sebelum data resmi pemerintah dirilis.

