
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami penurunan.Mengutip data Bloomberg, Jumat, 25 September 2026, rupiah hingga pukul 09.28 WIB berada di level Rp17.928 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 12 poin atau setara 0,07 persen dari Rp17.916 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.893 per USD. Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah.”Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.910 per USD hingga Rp18.000 per USD,” papar Ibrahim dalam analisis hariannya.
Menanti perdamaian AS-Iran
Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen Iran dan Amerika Serikat yang masih berbeda pendapat mengenai cara mengakhiri perang mereka, namun diplomasi harus terus berjalan; kata seorang pejabat senior Iran setelah Presiden Iran menyatakan di hadapan Majelis Umum PBB bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah pada tekanan AS.
Teheran sedang meninjau tanggapan Washington terhadap usulan perdamaiannya, yang memprioritaskan pencabutan blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz, ujar pejabat tersebut.
Pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade angkatan laut Washington terhadap Iran telah dibahas dalam pembicaraan tidak langsung pada hari Selasa, kata pejabat itu.
Sebelumnya pada Rabu, Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama syarat-syarat Iran belum dipenuhi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada wartawan kesepakatan dengan Iran akan membutuhkan kerja keras dalam jangka waktu tertentu, seraya menambahkan Trump juga memiliki opsi militer.
Sementara itu, pengambil kebijakan The Fed memberikan nada hawkish dengan Gubernur Michael Barr mengatakan penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Presiden Fed Richmond Tom Barkin dan Presiden Fed Boston Susan Collins keduanya mendukung kenaikan suku bunga baru-baru ini, dengan alasan tekanan inflasi yang terus berlanjut.
Kemungkinan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya di Oktober adalah sekitar 69,7 persen, menurut alat CME FedWatch, naik dari 48,7 persen minggu lalu.
BI jaga stabilisasi rupiah
Di sisi lain, para ekonom memperingatkan langkah Bank Indonesia pada September yang mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil selama tiga bulan berturut-turut mungkin hanya merupakan jeda sementara, mengingat masih tingginya risiko eksternal akibat imbal hasil global yang meningkat, harga minyak yang fluktuatif, serta tekanan geopolitik.
Selain itu, para pembuat kebijakan juga menghadapi tantangan berupa perlambatan pertumbuhan, belanja rumah tangga yang lesu, dan sentimen pasar yang rentan, terutama karena nilai tukar rupiah masih rawan terhadap kembali menguatnya dolar AS dan arus keluar modal asing.
Jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, maka BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten. Kenaikan harga minyak di atas USD100 per barel berpotensi menekan mata uang melalui meningkatnya biaya energi.
Terlebih, adanya fenomena El Nino yang juga meningkatkan risiko gangguan produksi dan pasokan pangan. Kendati demikian, menurut Ibrahim, perekonomian domestik Indonesia menunjukkan daya tahan yang mengesankan.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 mampu bertengger di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.”Motor penggerak utama berasal dari konsumsi rumah tangga yang tetap kokoh, ditopang oleh stimulus fiskal pemerintah serta menguatnya keyakinan dan ekspektasi pendapatan masyarakat,” papar Ibrahim.

