Ponorogo, Metrotvjatim.com- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 341,85 hektare hingga akhir September 2026. Kebakaran tersebut tersebar di 56 desa yang berada di 17 kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo Masun mengatakan, kondisi kemarau ekstrem yang menyebabkan vegetasi mengering diduga menjadi salah satu faktor meluasnya kebakaran di kawasan hutan maupun hutan rakyat.
“Data karhutla tahun ini sangat kuat kaitannya dengan cuaca kering atau kemarau yang lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Masun, dilansir dari Antara, Senin, 12 Oktober 2026.
Berdasarkan data BPBD Ponorogo, Kecamatan Slahung mencatat luasan karhutla terbesar, yakni 81,3 hektare. Kemudian, disusul Kecamatan Bungkal 64,5 hektare, Sambit 42,5 hektare, Jenangan 35,5 hektare, dan Kauman 30 hektare.
Masun mengatakan wilayah Ponorogo telah mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran, terutama karena semak belukar dan tumpukan daun kering mudah tersulut api.
“Kondisi hutan menjadi kering, sehingga sangat mudah terbakar dan meluas. Ditambah kondisi angin yang sangat kencang,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi sumber api, terutama selama kondisi cuaca masih kering.
Warga juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta turut menjaga lingkungan. Tujuannya mencegah kebakaran yang dapat menimbulkan kerugian.
BPBD Ponorogo memperkirakan wilayah tersebut belum memasuki musim hujan pada Oktober 2026. Sehingga, upaya pencegahan karhutla perlu terus dilakukan.

