Malang, Metrotvjatim.com- Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 resmi ditutup di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu 19 September 2026. Ajang kompetisi sains nasional ini mempertemukan 566 finalis terbaik dari seluruh Indonesia dan berkompetisi dalam 9 bidang sains, yakni Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Informatika, Astronomi, Kebumian, Geografi, dan Ekonomi.
Kontingen Provinsi DKI Jakarta berhasil keluar sebagai juara umum OSN 2026 dengan perolehan 21 medali emas, 26 perak, dan 35 perunggu.
Posisi kedua ditempati Provinsi Banten dengan raihan 14 emas, 12 perak, dan 14 perunggu. Sementara itu, Provinsi Jawa Barat berada di posisi ketiga dengan mengumpulkan 8 emas, 23 perak, dan 16 perunggu. Adapun tuan rumah, Provinsi Jawa Timur, harus puas menempati peringkat kelima dengan perolehan 6 medali emas, 22 perak, dan 28 perunggu.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti mengatakan, OSN merupakan bagian dari program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mendorong prestasi akademik peserta didik, mulai jenjang SD hingga SMA dan sederajat. Kompetisi ini diharapkan dapat menjadi sarana motivasi bagi para peserta untuk semakin giat belajar sekaligus mengembangkan kemampuan sebagai calon saintis muda Indonesia. “Kami harapkan dapat menjadi ajang yang memberikan motivasi bagi anak-anak kita untuk lebih giat belajar dan juga mengembangkan diri sebagai saintis muda Indonesia yang mampu untuk menerapkan teori, sekaligus juga dapat mengeksplorasi berbagai kekayaan yang kita miliki,” ujar Abdul Mu’ti.
Kementerian, lanjutnya, akan memberikan kesempatan pembinaan bagi para pemenang yang telah melalui proses seleksi ulang untuk dipersiapkan mengikuti berbagai ajang internasional, baik di bidang sains maupun bidang lainnya. Selain memperoleh penghargaan dan hadiah uang, para pemenang juga berkesempatan mendapatkan pembinaan lanjutan dari kementerian.
Dalam kesempatan tersebut, Mendikdasmen juga menyoroti pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa AI merupakan teknologi yang semakin dominan dan perlu dimanfaatkan secara bijak. Namun, penggunaannya harus tetap disertai moralitas serta tanggung jawab agar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa AI dan coding telah menjadi mata pelajaran pilihan, mulai dari jenjang kelas 5 SD.
Ia menekankan bahwa AI dan berbagai produk teknologi merupakan alat, sedangkan manusia tetap menjadi penentu dalam pemanfaatannya.
Untuk itu, terdapat tiga hal yang harus ditingkatkan pendidik. Yang pertama, how to master AI, bagaimana menguasai AI. Kemudian how to work with AI, bagaimana dapat bekerja dengan AI. Dan yang ketiga, how to go beyond.
“Bagaimanapun anak-anak itu harus melampaui AI, maksudnya adalah mereka tetap menggunakan AI itu untuk tujuan-tujuan yang positif, yang bermanfaat, yang berdampak bagi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkas Abdul Mu’ti. (Wahyu)

