Sidoarjo, Metrotvjatim.com- Perajin batik di Kabupaten Sidoarjo berharap pemerintah kabupaten setempat memberikan dukungan nyata melalui kebijakan dan aturan yang kuat untuk menjaga keberlangsungan industri batik lokal. Dukungan regulasi dinilai vital untuk memastikan kepastian pasar sekaligus melindungi ekonomi ratusan perajin dan pekerja.
Perajin batik Sidoarjo, Nurul Huda,65, mengatakan, keberlangsungan pasar batik daerah saat ini sangat bergantung pada kebijakan penggunaan busana lokal di lingkungan instansi pemerintahan, dinas, hingga aparatur sipil negara (ASN).
”Kalau ada kebijakan atau surat edaran yang kuat untuk memakai batik Sidoarjo, permintaan meningkat. Tapi kalau penegasannya longgar, masyarakat bisa kembali memakai batik dari luar Sidoarjo,” tegas Nurul Huda saat ditemui di kediamannya, Jumat (2/10).
Nurul menilai, tanpa intervensi kebijakan yang tegas dari pemda, potensi ekonomi daerah berisiko tersedot ke luar Sidoarjo. Padahal, satu perajin batik mampu menyerap lebih dari 100 tenaga kerja yang didominasi oleh kelompok perempuan atau ibu rumah tangga, dengan penghasilan harian berkisar Rp125.000 hingga Rp200.000.
Selain menerbitkan aturan penggunaan batik, Nurul juga meminta pemerintah daerah aktif memberikan pembinaan dan edukasi kepada masyarakat umum. Edukasi dinilai penting untuk memperjelas perbedaan antara batik tulis/cap bernilai seni tinggi dengan kain bermotif cetak (printing), sehingga konsumen dapat menghargai proses kreativitas perajin lokal.
Meski mengharapkan dukungan pemda, Nurul mengimbau agar pemerintah daerah berhati-hati jika ingin menerapkan aturan batik lokal sebagai seragam sekolah secara menyeluruh. Ia mengingatkan agar kebijakan tidak membentur kemampuan ekonomi orang tua murid mengingat harga batik tulis yang relatif tinggi.
”Kalau untuk siswa, jangan sampai kebijakan justru memberatkan orang tua. Batik Sidoarjo tetap bisa dikenalkan melalui kegiatan tertentu, misalnya Hari Batik atau acara budaya,” tambahnya.
Ia berharap Pemda Sidoarjo tidak merumuskan aturan secara sepihak, melainkan turut melibatkan paguyuban perajin dalam penyusunan kebijakan sektor usaha mikro tersebut.
”Yang kami harapkan pemerintah membantu menjaga pasar, memberikan edukasi kepada masyarakat, dan melibatkan perajin dalam setiap kebijakan. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya budaya, tetapi juga ekonomi masyarakat,” pungkasnya.
Batik tulis kerajinan Huda memang relatif mahal dengan harga bervariasi. Mulai terendah Rp200.000 hingga Rp5 juta per lembar. Khusus harga termahal berbahan kain sutera.
Corak batik Sidoarjo ciri khasnya adalah ada bandeng dan udang yang merupakan ikon dari kabupaten setempat. Namun untuk batik yang premium harga jutaan, coraknya tergantung dari permintaan atau pesanan konsumen. (HS)

