Tulungagung, metrotvjatim.com : Di bulan Ramadan, lantunan ayat suci terdengar syahdu dari sebuah ruang kelas di SLB PGRI Kedungwaru. Ayat-ayat Al-Qur’an tak dibaca dengan mata, melainkan dengan ujung jemari. Di sekolah ini, siswa tunanetra belajar membaca Al-Qur’an menggunakan huruf Braille, sekaligus menghafalkannya melalui program tahfidz.
Jemari kecil Riska Desila Putri menyusuri titik-titik timbul di atas lembaran Al-Qur’an Braille. Perlahan namun pasti, siswi tunanetra itu melafalkan ayat demi ayat dengan percaya diri. Baginya, titik-titik Braille bukan sekadar kode, melainkan cahaya yang menuntunnya membaca kalam Ilahi.

Untuk menguasai Braille, Riska harus mengenal huruf hijaiyah dari alif hingga ya dalam bentuk titik timbul. Prosesnya tak instan. Dibutuhkan latihan rutin dan kesabaran tinggi.
Menurut Arif Efendi, pengajar Al-Qur’an Braille, rata-rata siswa memerlukan waktu sekitar satu hingga satu setengah tahun untuk benar-benar lancar membaca.
Tak hanya membaca, sekolah ini juga memiliki program tahfidz Al-Qur’an. Denadine, siswi kelas dua SDLB, kini tengah menghafal Surat Al-Baqarah. Dengan suara mantap, ia melantunkan hafalan tanpa melihat teks.
Sementara itu, siswa lainnya, Nanda, juga tengah menyelesaikan hafalan Surat Al-Baqarah dan Juz 30. Metode yang digunakan adalah simakan, di mana guru membacakan ayat, siswa mendengarkan, lalu mengulanginya hingga melekat dalam ingatan.
Program literasi Al-Qur’an Braille dan tahfidz ini menjadi bagian dari pembinaan mental dan spiritual di SLB PGRI Kedungwaru. Sekolah swasta terakreditasi B ini melayani berbagai kebutuhan khusus, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, hingga autisme, dengan jenjang pendidikan dari SDLB hingga SMALB.
Di ruang kelas sederhana ini, Ramadan menjadi lebih bermakna. Jemari-jemari terampil terus menyusuri titik-titik Braille, sementara suara-suara kecil itu menghafal ayat demi ayat. Keterbatasan penglihatan tak memadamkan semangat mereka. Justru dari sini terpancar ketekunan dan harapan.

