Tuban, metrotvjatim.com : Ramadan di Kabupaten Tuban terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Bubur Suro Sunan Bonang. Takjil bercita rasa rempah khas ini telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun yang terus lestari hingga kini. Bubur yang dibagikan secara gratis setiap sore menjelang berbuka puasa ini selalu dinantikan warga.
Setiap sore selama bulan suci, aroma santan dan kaldu sapi mengepul dari halaman Masjid Astana Sunan Bonang. Di kompleks makam Sunan Bonang inilah Bubur Suro dimasak dan dibagikan kepada masyarakat.
Bubur Suro diracik menggunakan bahan utama beras, daging serta kaldu sapi, dipadukan dengan aneka rempah pilihan dan santan kelapa. Perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa gurih yang khas, dengan aroma rempah yang kuat dan menggugah selera.
Tradisi pembagian Bubur Suro telah berlangsung puluhan tahun dan tetap dijaga oleh masyarakat setempat. Proses memasaknya pun masih mempertahankan cara tradisional.
Setiap hari, bubur dimasak menggunakan 12 kilogram beras, 15 kilogram tulang atau balungan sapi, serta 10 butir kelapa. Seluruh bahan diolah dalam dua wajan besar selama hampir tiga jam menggunakan kayu bakar, demi menghasilkan rasa dan aroma khas yang tetap autentik.
Tanpa perlu waktu lama, dua wajan besar Bubur Suro ludes diserbu warga yang telah mengantre sejak sore hari. Bagi masyarakat Tuban, bubur ini bukan sekadar menu berbuka puasa, melainkan bagian dari tradisi, kebersamaan, dan kenangan masa kecil.
Mohammad Lazim, salah satu peracik bubur, mengatakan tradisi ini telah ada sejak dirinya kecil dan hanya disajikan setiap Ramadan.
Sementara itu, Taufik, warga setempat, mengaku hampir setiap hari ikut mengantre Bubur Suro. Menurutnya, cita rasa bubur tersebut memiliki kekhasan yang tidak ditemukan di tempat lain. Ia bahkan menyebut telah menikmati bubur ini sejak masa kecilnya.

