Tulungagung, metrotvjatim.com : Menjelang Hari Raya Idulfitri, permintaan blangkon di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengalami peningkatan signifikan. Para perajin mulai kebanjiran pesanan, terutama untuk kelengkapan busana Lebaran dan kebutuhan ibadah selama Ramadan.
Suasana rumah produksi blangkon milik Sutopo, warga Desa Kaliwungu, Kecamatan Ngunut, Tulungagung, tampak lebih sibuk dari hari biasanya. Pesanan terus berdatangan dari berbagai kota di Indonesia, baik untuk digunakan saat ibadah Ramadan maupun sebagai pelengkap busana saat Lebaran.
Sutopo mengaku, permintaan mulai meningkat sejak awal bulan puasa. Sebelum Ramadan, ia biasanya hanya memproduksi dua hingga tiga blangkon per hari. Namun selama bulan puasa, jumlah produksi meningkat menjadi enam hingga sepuluh blangkon per hari.
Jenis blangkon yang diproduksi pun beragam, mulai dari gaya Jawa Timuran, Solo, Yogyakarta, hingga model Sente Rewe.
Di rumah produksinya, blangkon dibuat secara manual. Prosesnya dimulai dari menyiapkan kain batik, membentuk pola, hingga menjahit setiap bagian secara teliti. Ketelitian dan kerapian menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas produk.
Penjualan dilakukan secara online maupun offline. Untuk menarik pembeli langsung, berbagai model blangkon dipajang rapi di etalase dengan motif batik yang beragam.
Permintaan tidak hanya datang dari wilayah Tulungagung dan sekitarnya, tetapi juga dari sejumlah kota di Pulau Jawa seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Bekasi, bahkan hingga luar Pulau Jawa.
Harga blangkon bervariasi tergantung jenis kain dan tingkat kerumitan pembuatannya. Untuk blangkon standar, harga dibanderol sekitar Rp100 ribu per buah. Sementara untuk model dan bahan khusus, harganya bisa mencapai Rp250 ribu hingga Rp450 ribu per buah.
Menurut Sutopo, momen Lebaran menjadi waktu di mana banyak warga menggunakan blangkon sebagai pelengkap busana saat silaturahmi. Selain itu, blangkon juga kerap dikenakan saat salat Tarawih selama Ramadan, serta menjadi koleksi bagi para pecinta budaya Jawa. Bagi sebagian masyarakat, blangkon bukan sekadar aksesori, melainkan simbol identitas dan pelestarian budaya Jawa. Meningkatnya permintaan di bulan Ramadan ini membawa dampak positif bagi perajin sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tradisional di tengah perkembangan mode busana modern.

