Sidoarjo, metrotvjatim.com : Program pembangunan tiga juta rumah subsidi yang dicanangkan pemerintah dinilai menjadi peluang besar untuk menggerakkan sektor properti sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Program nasional ini diyakini mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) karena melibatkan sekitar 180 industri turunan di dalamnya.
Ketua Real Estat Indonesia (REI) Komisariat Sidoarjo, Harry Hermawan, menyatakan, program tersebut berpotensi menghidupkan berbagai sektor industri pendukung, mulai dari semen, besi, baja, keramik, kaca, hingga bahan bangunan lainnya. Namun, ia menekankan, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pengembang, melainkan butuh sinergi kuat dari seluruh pihak.
”Program tiga juta rumah merupakan peluang besar untuk menggerakkan sektor properti sekaligus menghidupkan sekitar 180 industri pendukung. Karena itu, diperlukan kolaborasi semua pihak agar program nasional ini benar-benar berjalan optimal,” ujar Harry di Sidoarjo, Senin (20/7).
Harry menegaskan, REI Komisariat Sidoarjo siap mendukung penuh pelaksanaan program tersebut. Kendati demikian, ia berharap pemerintah dapat memberikan kepastian regulasi sebagai landasan jelas bagi pengembang dalam merealisasikan pembangunan di lapangan.
”Kami siap mendukung program pemerintah. Yang kami harapkan adalah adanya kepastian regulasi, mulai dari ketersediaan lahan, penyederhanaan proses perizinan, hingga kebijakan yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” kata Harry menambahkan.
Saat ini, kata Harry, para pengembang masih menghadapi sejumlah tantangan berat dalam merealisasikan rumah subsidi. Beberapa di antaranya meliputi harga lahan yang terus melonjak, kenaikan harga material bangunan yang mendongkrak biaya produksi, hingga proses perizinan di daerah yang dinilai masih perlu disederhanakan agar lebih efisien.
Secara khusus, Harry meminta adanya penyesuaian kebijakan di tingkat lokal, termasuk Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur ketentuan rumah komersial dan rumah subsidi. Menurutnya, regulasi daerah yang adaptif akan sangat membantu percepatan pembangunan. Selain regulasi, ketersediaan infrastruktur dasar seperti jaringan air bersih, akses jalan, dan drainase juga menjadi faktor penentu keberhasilan pengembangan kawasan.
”Jika persoalan regulasi, perizinan, lahan, dan infrastruktur dapat diselesaikan bersama, kami optimistis program tiga juta rumah tidak hanya memenuhi kebutuhan hunian masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah melalui tumbuhnya industri-industri pendukung,” pungkas Harry. (HS)

