New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat, karena percepatan inflasi produsen utama tahunan AS menyebabkan penguatan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Pasar obligasi semakin merosot setelah data tersebut, dengan imbal hasil melonjak dan semakin mendorong kenaikan biaya pinjaman.
Mengutip Xinhua, Jumat, 11 September 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,23 persen menjadi 99,048.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah menjadi USD1,1613 dari USD1,1630 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris turun menjadi USD1,3513 dari USD1,3546 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS diperdagangkan pada 154,32 yen Jepang, lebih tinggi dari 153,60 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,8129 franc Swiss dari 0,8103 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga naik menjadi 1,3830 dolar Kanada dari 1,3806 dolar Kanada. Dolar AS meningkat menjadi 9,6782 krona Swedia dari 9,6009 krona Swedia.
ECB kerek suku bunga
Menukil Investing.com, prgerakan euro turut menjadi perhatian pasar setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga kebijakan utamanya sebesar 25 basis poin pada Kamis. Kebijakan tersebut telah diperkirakan secara luas oleh pasar.
ECB menyebut lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah terus memberikan tekanan terhadap inflasi. Dalam pernyataannya, ECB memperingatkan tekanan inflasi masih berpotensi bertahan. Inflasi diperkirakan tetap berada jauh di atas target dua persen untuk periode yang panjang.
“Risiko inflasi mungkin meningkat dan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada Desember mungkin lebih mungkin terjadi, tetapi ECB tetap perlu berhati-hati. Ekonomi telah tangguh selama enam bulan terakhir, tetapi kenaikan harga gas yang cepat berarti guncangan pasokan negatif semakin meningkat. Pada akhirnya akan merugikan pertumbuhan. Pertanyaannya adalah seberapa besar dan kapan,” kata Kepala Ekonom Eropa Deutsche Bank Mark Wall.
Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan guncangan energi akibat konflik Iran berpotensi semakin intensif. Dampak lanjutan terhadap harga dan upah juga berpotensi lebih besar dari perkiraan.
Sementara itu, laporan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga ECB kembali mencuat. Kenaikan berikutnya disebut berpotensi dilakukan paling cepat pada bulan depan. Di tengah perkembangan tersebut, euro terakhir diperdagangkan turun 0,1 persen menjadi USD1,1614.

