Jombang, Metrotvjatim.com – Di sudut Pasar Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, sosok Samsul Arif (47) tak lagi asing. Pria itu kini dikenal sebagai pemilik toko sembako yang ramai dikunjungi pembeli. Namun, siapa sangka, perjalanan usahanya dahulu dimulai dari pekerjaan yang jauh dari kata mapan, menjual jasa selep tepung.
Semua berawal pada Tahun 2001. Samsul Arif memulai hari-harinya dengan mengayuh sepeda angin dari rumah menuju pasar. Dengan tekun, ia melayani warga yang membutuhkan jasa selep tepung.
Pendapatan dari pekerjaan itu tidak besar, tetapi cukup untuk menyambung hidup dan menabung sedikit demi sedikit.
Titik balik datang setelah ia menikah. Pada 2007, dengan tabungan yang dimiliki, Samsul memberanikan diri membeli kios berukuran 2 x 3 meter di Pasar Bandung seharga Rp7,5 juta. Keputusan itu ia ambil untuk mewujudkan keinginan sang istri membuka toko di pasar. Bermodal awal Rp2 juta, kios kecil itu mulai diisi berbagai kebutuhan pokok untuk dijual.
“Dulu biasa saja mas. Sekarang sudah Alhamdulillah. Yang penting tekad yang kuat, karena semua demi keluarga,” ucap Samsul, lirih.
Perlahan tetapi pasti, usaha Samsul akhirnya tumbuh. Pada 2017, ia mengajukan pinjaman pertama ke BRI melalui KUR sebesar Rp25 juta. Dana itu dipakai untuk membeli kios lagi sehingga tempat usahanya menjadi lebih luas, dari 2 x 3 meter menjadi 6 x 2 meter. Modal tersebut juga digunakan untuk menambah stok barang dagangan agar semakin beragam dan lengkap.
Tiga tahun kemudian, Samsul kembali mengajukan KUR BRI secara berturut-turut: Rp50 juta, Rp50 juta, hingga terakhir Rp60 juta. Tambahan modal itu ia manfaatkan untuk mengembangkan usaha dan membeli sebuah mobil pickup. Kendaraan itu sangat berarti baginya.
“Dulu mengangkut barang pakai sepeda motor. Namun, karena barang semakin banyak, jadi g muat,” katanya.
Berkat kerja keras, pengelolaan usaha yang baik, serta akses permodalan yang tepat, bisnis sembako Samsul terus berkembang. Omzet usahanya meningkat, dan taraf hidup keluarganya ikut membaik.
Dari hasil usaha itu, ia berhasil membeli tanah dan membangun rumah, membeli mobil untuk kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan kedua putranya hingga kuliah, bahkan menyiapkan keberangkatan haji bersama sang istri.
Tak berhenti sampai di situ. Samsul kini mulai merintis usaha baru. Dengan pinjaman BRI terakhir sebesar Rp60 juta, ia membeli tanah dan membangun gudang di rumahnya. Gudang itu dipersiapkan untuk usaha grosir berbagai kebutuhan pokok. Ia berharap kelak usaha tersebut dapat dikelola oleh putranya setelah menyelesaikan kuliah pada 2027 mendatang.
Bagi Samsul, akses permodalan menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan usahanya. Ia mengaku selama ini memilih BRI karena menilai bunganya relatif rendah, proses kreditnya cepat dan mudah, serta pelayanan petugasnya memuaskan. Pelayanan mantri dan petugas BRI, menurutnya, membuatnya nyaman untuk terus memanfaatkan fasilitas pembiayaan tersebut.
Kisah Samsul Arif adalah bukti bahwa usaha besar tidak selalu dimulai dari modal besar. Dari kayuhan sepeda angin dan jasa selep tepung, ia perlahan membangun mimpi. Dengan ketekunan, keberanian melangkah, dan pengelolaan modal yang tepat, kios kecilnya kini berkembang menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan bagi keluarga. (Amir)

