
Fire Fighting Training Center (FFTC) yang dimiliki TNI AL ini telah berstandar internasional National Fire Protection Association (NFPA), foto : Dispen Koarmada II.
Surabaya, metrotvjatim.com : TNI Angkatan Laut kini memiliki Fire Fighting Training Center (FFTC) yang Koarmada II yang telah berstandar internasional, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan awak kapal dalam menghadapi kondisi darurat khususnya kebakaran di kapal.
Fasilitas tersebut dibangun sebagai upaya TNI AL dalam meningkatkan sumber daya manusia yang profesional dan siap menghadapi dinamika penugasan.FFTC yang berada di komando latihan (kolat) koarmada dua Surabaya ini, diresmikan secara langsung oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Edwin, bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwaghandi.
Fire Fighting Training Center (FFTC) yang dimiliki TNI AL ini telah berstandar internasional National Fire Protection Association (NFPA) dan menjadi arena berlatih bagi prajurit untuk mengasah kemampuan menghadapi bahaya kebakaran melalui berbagai skenario latihan yang mendekati kondisi sebenarnya.
Untuk mendukung latihan tersebut, FFTC dilengkapi dengan sejumlah fasilitas latihan seperti ruang simulasi kebakaran mesin, distribusi api, koordinasi peran, komunikasi kebakaran, dapur kebakaran hingga ruang tidur kebakaran serta ruang kendali, halang rintang, ruang pembelajaran, ruang kesehatan dan pengisian tabung, sehingga prajurit dapat berlatih menghadapi beragam skenario secara lebih komprehensif.
Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksdya TNI Erwin mengatakan, FFTC Koarmada II menjadi sarana penting untuk melatih para awak KRI maupun anak buah kapal (ABK) agar mampu menghadapi situasi kritis di kapal.
“Fasilitas ini kita gunakan untuk melatih pengetahuan dan keterampilan para awak KRI, para ABK, untuk menghadapi situasi-situasi kritis di kapal, khususnya kebakaran. Kita juga melihat tadi ada Damage Control Simulator,” kata Wakasal Edwin saat peresmian Fire Fighting Training Center di Koarmada II.
Menurutnya, terdapat dua kondisi darurat yang menjadi ancaman krusial di kapal, yakni kebakaran dan kebocoran. Karena itu, prajurit TNI AL terus dilatih agar senantiasa siap menghadapi kondisi kedaruratan tersebut.
“Ada dua permasalahan yang ada di kapal yang cukup krusial, yaitu bahaya kebakaran dan bahaya kebocoran. Dan inilah yang kita laksanakan, salah satunya melatih para prajurit Jalasena untuk senantiasa siap siaga menghadapi kondisi kedaruratan ini,” ujarnya.
Wakasal Edwin menjelaskan, pembangunan FFTC merupakan proyek tahun jamak yang dimulai pada 2024. Fasilitas tersebut kemudian diresmikan dan telah mengantongi standardisasi atau sertifikasi internasional NFPA.
Dengan standar tersebut, TNI AL membuka peluang pemanfaatan fasilitas FFTC secara bersama-sama dengan kementerian/lembaga maupun berbagai pemangku kepentingan di bidang kemaritiman.
“Fasilitas ini kita harapkan juga bisa kita manfaatkan bersama-sama, baik itu kementerian/lembaga, kemudian rekan-rekan stakeholder yang bergerak di bidang kemaritiman,” jelasnya.
Ia menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran kapal sangat penting karena api dapat menyebar dengan cepat, terlebih ketika terjadi di ruang-ruang tertutup. Melalui latihan berulang, diharapkan respons awak kapal menjadi otomatis dan semakin cepat ketika menghadapi kondisi darurat.
“Kita harapkan dengan latihan ini alam bawah sadar para pengawaknya terbentuk dengan latihan-latihan yang kita laksanakan. Diharapkan ke depan kita bisa mereduksi karena kita lihat akhir-akhir ini sering berulang permasalahan, khususnya kebakaran di kapal,” katanya.
Dalam latihan tersebut, kemampuan awak kapal dalam memadamkan api juga menggunakan standar waktu yang terukur. Para peserta ditargetkan mampu memadamkan api dalam waktu maksimal empat menit.”Tadi kita tanyakan, salah satunya empat menit maksimum mereka harus bisa memadamkan api. Lebih dari empat menit, fail,” tegas Edwin.
Menurutnya, batas waktu tersebut menjadi salah satu tolok ukur untuk memastikan awak kapal memiliki kemampuan dan kecepatan dalam menangani kebakaran, sehingga risiko kejadian yang lebih buruk dapat ditekan.Selain FFTC, TNI AL juga memiliki Damage Control Simulator yang digunakan untuk melatih penanganan kondisi kebocoran kapal.
Kedua fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal tidak hanya oleh internal TNI AL, tetapi juga bersama seluruh stakeholder kemaritiman.Edwin menyebut kehadiran Menteri Perhubungan, Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Pelindo, Pelni, Bakamla, serta sejumlah kementerian dan stakeholder lainnya menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi dalam meningkatkan keselamatan pelayaran. (Suy)

