Jombang, metrotvjatim.com – Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur menggelar bedah buku karya Dr. KH. Muhammad Nur Hayid (Gus Hayid) yang berjudul NU Abad Kedua di tengah rangkaian pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Kegiatan tersebut menjadi ruang intelektual untuk mendiskusikan gagasan dan agenda strategis NU dalam memasuki abad kedua.
Buku karya Gus Hayid tersebut mengangkat sejumlah gagasan mengenai arah perjalanan NU di abad kedua. Tidak hanya berbicara mengenai penguatan organisasi, buku ini juga menawarkan pemikiran tentang bagaimana NU dapat terus memberikan khidmah kepada umat dan masyarakat di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Bedah buku yang digelar di arena Muktamar ke-35 NU itu mempertemukan kalangan sarjana, aktivis NU, dan warga Nahdliyin untuk mendalami berbagai gagasan yang dituangkan Gus Hayid. Diskusi diarahkan pada bagaimana pemikiran dalam buku tersebut dapat diterjemahkan menjadi agenda nyata organisasi.
Gus Hayid dalam gagasannya menekankan pentingnya menjaga fondasi dan khittah An-Nahdliyyah sekaligus melakukan inovasi agar NU mampu menjawab tantangan abad kedua. Menurutnya, memasuki abad kedua, NU tidak cukup hanya mempertahankan apa yang sudah berjalan.
“Organisasi perlu melakukan penguatan internal, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat kaderisasi, serta membangun kemandirian ekonomi warga Nahdliyin,” kata Gus Hayid.
Selain itu, lanjut Gus Hayid, modernisasi organisasi juga menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan sosial dan teknologi. Digitalisasi, penguatan tata kelola, pendidikan, pesantren, layanan kesehatan, hingga pengembangan ekonomi menjadi sejumlah isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian.
Forum bedah buku ISNU Jatim tersebut sekaligus menjadi momentum untuk melihat NU dari perspektif intelektual dan akademik. Gagasan-gagasan yang muncul diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat menjadi bahan refleksi dan rekomendasi bagi perjalanan NU ke depan.
Produk Intelektual
Dr. H. Yusuf Amrozi, PW ISNU Jawa Timur sekaligus Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya mengapresiasi peluncuran buku karya Gus Hayid yang mengangkat gagasan dan arah perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua. Yusuf menilai buku tersebut merupakan produk intelektual yang serius dan memiliki kualitas akademik yang kuat.
Menurutnya, buku itu tidak hanya menyajikan gagasan mengenai masa depan NU, tetapi juga memiliki struktur penulisan dan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
“Ini produk intelektual yang luar biasa. Produk intelektual yang saya kira sangat serius,” ujar Yusuf Amrozy saat memberikan apresiasi terhadap buku tersebut.
Ia mengaku telah melihat secara langsung sejumlah bagian penting dari buku, mulai dari narasi, struktur pembahasan hingga daftar pustaka. Dari aspek tersebut, ia menilai buku karya Gus Hayid memiliki kelayakan untuk menjadi salah satu referensi akademik bagi NU ke depan.
“Tadi saya melihat narasi isinya, strukturnya, sampai daftar pustakanya. Saya kira juga layak untuk menjadi referensi akademik NU ke depan,” katanya.
Menurut Yusuf, buku yang mengusung tema “NU Abad Kedua” tersebut memiliki pembahasan yang lengkap dan komprehensif. Judul buku dinilai selaras dengan substansi yang dibahas, terutama dalam memberikan gambaran mengenai NU dan berbagai agenda yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi perjalanan abad kedua.
Ia juga menilai buku tersebut memiliki karakter akademik yang cukup kuat. Standar penyusunannya, kata dia, sudah memenuhi standar yang lazim digunakan di lingkungan dosen dan akademisi. “Buku ini menurut saya cukup akademik, standarnya standar dosen, standar akademisi,’ tuturnya.
Meski memiliki pendekatan akademik, Yusuf menilai buku tersebut tetap dapat dibaca oleh masyarakat umum. Bahasa yang digunakan tidak terlalu sulit sehingga gagasan-gagasan yang disampaikan masih dapat dipahami oleh para peminat NU maupun publik secara luas.
“Walaupun juga para peminat atau publik secara umum juga dapat memahami isi buku ini, karena saya lihat kalimatnya juga bukan kalimat yang terlalu sulit,” tutupnya. (*)

