Jakarta, Metrotvjatim.com- Harga emas dunia atau XAUUSD diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. Secara teknikal, harga emas berpotensi menguji area support USD4.360.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan XAUUSD pada time frame H4 masih menunjukkan kecenderungan bearish . Belum terlihat sinyal pembalikan yang cukup kuat sehingga peluang pelemahan dalam jangka pendek masih terbuka.
“Selama harga belum menunjukkan pembalikan yang signifikan, area support USD4.360 menjadi level yang berpotensi diuji,” ujar Geraldo dalam analisisnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Menurut dia, level tersebut memiliki arti penting karena merupakan area support sebelumnya sekaligus bertepatan dengan Fibonacci 161,8 persen. Kombinasi kedua indikator tersebut membuat USD4.360 menjadi area yang perlu dicermati pelaku pasar.
Tekanan terhadap XAUUSD juga tercermin dari pola Drop Base Drop pada grafik H4. Pola tersebut menggambarkan penurunan harga, diikuti fase konsolidasi, kemudian kembali bergerak turun. Formasi ini menunjukkan tekanan jual masih relatif dominan.
Jika harga mampu bertahan di sekitar USD4.360 dan membentuk sinyal pembalikan, peluang terjadinya rebound teknikal tetap terbuka. Sebaliknya, penembusan dukungan tersebut dapat membuka ruang bagi pelemahan menuju tingkat yang lebih rendah.
Hasil AS dan kebijakan The Fed
Dari sisi fundamental, pergerakan emas turut mempengaruhi kenaikan US Treasury Yield. Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik instrumen berbasis bunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Kondisi tersebut membuat biaya peluang ( opportunity cost ) memegang emas menjadi lebih tinggi dan dapat menekan permintaan terhadap logam mulia.
Ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) juga menjadi perhatian pasar. Komentar hawkish Kevin Warsh dalam agenda Jackson Hole mendorong investor menyesuaikan kembali perkiraan mengenai arah suku bunga Amerika Serikat.
Berdasarkan rangkuman pasar, probabilitas kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 57 persen, sementara imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun meningkat ke kisaran 4,33 persen.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menopang dolar AS dan mengembalikan hasil obligasi, yang pada akhirnya dapat menjadi sentimen negatif bagi emas. Namun, arah kebijakan moneter tetap akan bergantung pada perkembangan data ekonomi dan pernyataan pejabat The Fed selanjutnya.
Geopolitik jadi penahanan pelemahan
Di tengah tekanan imbal hasil dan prospek suku bunga, faktor geopolitik masih berpotensi memberikan dukungan terhadap harga emas.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dapat meningkatkan penetrasi pasar global sehingga mendorong minat investor terhadap aset safe haven. Emas secara historis menjadi salah satu aset yang diperhatikan ketika risiko geopolitik meningkat.
Pergerakan harga minyak juga perlu dipertimbangkan. Ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong harga minyak lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi sekaligus mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.
Dengan demikian, prospek emas saat ini dipengaruhi oleh sentimen yang berlawanan. Peningkatan Treasury Yield dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan XAUUSD, sedangkan ketegangan geopolitik dan risiko kenaikan harga minyak dapat menopang permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Geraldo menilai USD4.360 menjadi level kunci untuk menentukan arah pergerakan XAUUSD berikutnya.
“Prediksi harga emas hari ini masih mengarah pada potensi penurunan menuju USD4.360. Pelaku pasar juga perlu mencermati pergerakan Treasury Yield, ekspektasi suku bunga The Fed, perkembangan AS-Iran, serta harga minyak karena faktor-faktor tersebut berpotensi mempengaruhi volatilitas XAUUSD sepanjang perdagangan hari ini,” jelas dia.

