Singapura: Maskapai Singapore Airlines (SIA) membatalkan 19 penerbangan rute Singapura-Jakarta pada Minggu, 6 September 2026, akibat penutupan sementara operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta menyusul terdeteksinya abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
SIA mengatakan situasi masih terus berubah sehingga penerbangan lainnya antara Singapura dan Indonesia juga berpotensi terdampak.
“Karena situasinya masih berubah, penerbangan SIA lainnya antara Singapura dan Indonesia mungkin terdampak,” kata Singapore Airlines dalam keterangan yang dikutip Channel News Asia.
Maskapai tersebut mengimbau penumpang memeriksa status penerbangan mereka melalui kanal informasi penerbangan SIA untuk mendapatkan informasi terbaru.
Penutupan operasional Bandara Soekarno-Hatta sebelumnya dijadwalkan berakhir pada pukul 05.30 WIB. Namun, waktu tersebut diperpanjang menjadi pukul 09.30 WIB dan kembali diperpanjang hingga pukul 13.30 WIB pada Minggu.
Kementerian Perhubungan Indonesia menyebut lebih dari 22.000 penumpang terdampak akibat penghentian sementara operasi penerbangan tersebut. Sebanyak 209 penerbangan, termasuk sejumlah penerbangan internasional, terdampak.
Selain penerbangan menuju dan dari Singapura, sejumlah penerbangan internasional yang dijadwalkan pada Minggu juga mengalami penundaan atau pembatalan, termasuk rute Kuala Lumpur, Guangzhou, Hong Kong, dan Doha.
Abu vulkanik terdeteksi di sekitar Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu pagi setelah Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi sejak Jumat (4/9) malam.
Bandara Soekarno-Hatta berjarak sekitar 180 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.
Erupsi Anak Krakatau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan abu vulkanik terdeteksi hingga ketinggian 6.000 meter di sisi Jawa. Sementara itu, kolom erupsi mencapai sekitar 15.000 meter di sisi Sumatra serta sejumlah wilayah Banten.
Gunung Anak Krakatau berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Gunung tersebut muncul sekitar satu abad lalu dari kawasan yang sebelumnya ditempati Gunung Krakatau.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak abu vulkanik. Masyarakat yang mengalami hujan abu disarankan menggunakan masker dan pelindung mata, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup sumber air, serta berhati-hati saat berkendara karena abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang.
Sejumlah sekolah juga membatalkan kegiatan pada Sabtu (5/9) setelah abu vulkanik menyebabkan iritasi mata pada siswa dan warga. Nelayan di sejumlah wilayah turut membatalkan aktivitas melaut akibat erupsi.
BNPB menyatakan belum terdapat ancaman tsunami dalam waktu dekat akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Gunung tersebut memiliki sejarah erupsi yang pernah memicu tsunami mematikan. Pada 2018, tsunami akibat aktivitas Anak Krakatau menewaskan ratusan orang dan melukai ratusan lainnya di pesisir Jawa dan Sumatra.
Sebelumnya, letusan dahsyat Krakatau pada 1883 menghancurkan sebagian besar gunung tersebut dan memicu rangkaian tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 orang.

