Sidoarjo, Metrotvjatim.com- Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mendorong perluasan akses literasi siswa melalui program Perpustakaan Digital Sekolah. Inovasi berbasis aplikasi ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca sekaligus mengasah kemampuan menulis siswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, mengapresiasi hadirnya program literasi digital yang dikembangkan oleh Pustaka Media Guru tersebut. Menurutnya, kemudahan akses bacaan harus diimbangi dengan pemahaman isi buku agar literasi anak tumbuh secara optimal sejak dini.
“Jangan sekadar membaca. Kalau bisa, setelah membaca harus diceritakan agar ada kemauan untuk membaca kembali,” ujar Mimik saat menerima audiensi Pustaka Media Guru di rumah dinas Wabup Sidoarjo, Senin (19/10/).
Mimik menekankan pentingnya memberikan wadah bagi anak-anak untuk menceritakan kembali isi bacaan mereka. Langkah ini dinilai efektif untuk melatih pemahaman informasi, menambah kosakata, serta membangun kreativitas siswa karena mereka merasa didengarkan.
Pemimpin Redaksi Pustaka Media Guru, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa platform perpustakaan digital ini dapat diunduh secara gratis melalui perangkat Android dan iOS. Aplikasi tersebut juga dilengkapi fitur pemantauan aktivitas membaca siswa, seperti durasi membaca hingga jumlah buku yang telah diselesaikan.
“Sistem ini memudahkan sekolah menambah koleksi buku digital dengan biaya lebih efisien dibandingkan pengadaan buku cetak. Selain itu, siswa juga diberi ruang untuk menerbitkan karya tulis seperti cerpen sebagai konten lokal,” kata Eko.
Ia berharap program ini dapat terus diperluas melalui kolaborasi mendalam bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Sidoarjo, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan mulai dari kepala sekolah, guru, hingga orang tua.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dispendikbud Kabupaten Sidoarjo, Netti Lastiningsih, menyambut positif pengembangan literasi berbasis digital ini. Saat ini, lebih dari 100 sekolah di Sidoarjo telah menerapkan sistem perpustakaan mandiri dengan beragam skema.
Netti menegaskan bahwa penerapan perpustakaan digital baru perlu disesuaikan dengan ekosistem yang sudah ada di sekolah agar tidak membingungkan pengelola. Selain itu, penyesuaian konten bacaan sesuai jenjang usia juga menjadi perhatian utama.
“Untuk siswa kelas awal, buku bergambar dan komik berteks sederhana menjadi pilihan tepat agar mudah dipahami. Kami siap berkolaborasi dengan K3S dan MKKS, baik sekolah negeri maupun swasta, untuk memperkaya literasi di Sidoarjo,” tutur Netti.
Di tingkat satuan pendidikan, implementasi perpustakaan digital mulai membuahkan hasil. Salah satunya di SDN Sidodadi, yang memadukan akses bacaan digital dengan wadah kreativitas siswa melalui majalah digital bernama Jenggala.
Kepala SDN Sidodadi, Anita Wanodiya Kurnia, mengungkapkan bahwa kehadiran platform digital menjadi alternatif segar dari buku fisik. Karya siswa yang diterbitkan di majalah digital tersebut bahkan berhasil meraih Juara III pada perlombaan edisi ketiga tahun ini.
“Majalah digital ini menjadi wadah bagi siswa untuk menuangkan ide. Karya mereka tidak hilang setelah lulus, tetapi tersimpan dan bisa diakses terus sebagai bukti kreativitas mereka selama sekolah,” pungkas Anita. (HS)

