Jakarta: Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan kontribusi sektor hilirisasi terhadap investasi nasional mencapai 34 persen pada triwulan III-2026. Peningkatan tersebut salah satunya disebabkan oleh komoditas nikel yang mencatatkan peningkatan nilai ekspor secara signifikan.
Rosan mengatakan nilai ekspor nikel dan produk turunannya mencapai USD30 miliar pada tahun 2025. Nilai tersebut meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan sebelum kebijakan hilirisasi diterapkan.
“Pada tahun 2025, ekspor nikel dan turunannya itu sudah mencapai 30 miliar dolar sehingga naik menjadi 10 kali lipat, dan tentunya ini memberikan devisa, penciptaan lapangan pekerjaan,” ujar Rosan Roeslani dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, dikutip Jumat, 30 Oktober 2026.
Ia menjelaskan Indonesia saat ini memiliki sekitar 46 persen dari total nikel dunia. Kebijakan hilirisasi yang diterapkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir juga mendorong peningkatan nilai ekspor melalui pengolahan komoditas di dalam negeri.
Selain meningkatkan penerimaan devisa, aktivitas hilirisasi juga berkontribusi terhadap penyerapan energi kerja lokal serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Investasi hilirisasi memukau di luar Jawa
Rosan menyampaikan sekitar 78 persen realisasi investasi sektor hilirisasi yang berada di luar Pulau Jawa. Investasi tersebut berlokasi di sejumlah wilayah, terutama Sulawesi dan Maluku Utara.
“Adanya di luar Jawa, memang masih bersinar di Sulawesi dan juga di Maluku Utara,” tambah dia.
Pemerintah berkomitmen menjaga iklim investasi sektor hilirisasi agar dapat berjalan secara berkelanjutan dan berkualitas. Upaya tersebut juga diarahkan untuk mendorong transfer pengetahuan dan teknologi kepada sumber daya manusia di berbagai daerah.

