Jakarta: Harga emas dunia melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, didukung oleh kombinasi faktor fundamental dan teknikal yang semakin memperkuat daya tarik logam mulia sebagai aset safe-haven.
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha menjelaskan, kenaikan harga emas dipicu oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat serta meningkatnya tekanan inflasi yang tercermin dari data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE), yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve (The Fed).
Pada akhir pekan lalu, harga emas melonjak lebih dari satu persen dan diperdagangkan di kisaran USD5.065 per troy ounce setelah sempat menyentuh level terendah harian di USD4.981. Kenaikan ini menunjukkan bahwa minat investor terhadap emas tetap kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
“Pada sesi perdagangan Asia hari Senin, harga emas kembali bergerak stabil dengan kecenderungan menguat dan mendekati level USD5.095,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin, 23 Februari 2026.
Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan tarif impor baru melalui kewenangan Undang-Undang Perdagangan 1974. Kebijakan ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi perang dagang baru, sehingga mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas.
“Selain itu, ketidakpastian geopolitik terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran turut memberikan dukungan tambahan bagi harga emas, meskipun adanya peluang negosiasi antara kedua negara sedikit membatasi potensi kenaikan yang lebih agresif,” ungkapnya.

