Surabaya, metrotvjatim.com : Dewi Murniati, ibu dari siswa SMPN 33 Gresik yang menjadi korban peluru nyasar, terus berjuang mendapatkan keadilan untuk anaknya. Kali ini, Dewi Murniati, menemui anggota komisi A DPRD Jatim, untuk menyampaikan musibah yang dialaminya, Selasa (14/4/2026.
Kedatangan Dewi Murniati ke gedung DPRD Jatim ini didampingi sejumlah advokat dari berbagai organisasi, termasuk Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni.
Pada pertemuan itu, Dewi ditemui langsung oleh Ketua Komisi A DPRD Jatim Dedi Irwansyah dan Ketua Komisi C DPRD Jatim Adam Rusydi. Suaranya sempat bergetar ketika mulai curhat. Meski berusaha tegar, namun air matanya tetap jatuh saat mengisahkan perjuangannya sebagai single parent menghadapi persoalan yang menimpa anaknya.
Peristiwa itu terjadi pada 17 Desember 2025. Saat itu, Dewi mendapati kabar bahwa anaknya menjadi korban dugaan peluru nyasar ketika mengikuti kegiatan sekolah. Belakangan diketahui, di waktu yang sama berlangsung latihan tembak di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya
Namun, persoalan tak berhenti pada insiden tersebut. Dewi mengaku justru menghadapi berbagai tekanan setelahnya. “Saya diminta agar persoalan diselesaikan secara kekeluargaan, larangan melapor, hingga diminta tidak memviralkan kejadian itu,” curhat Dewi sembari mengusap air matanya.
Bahkan dalam proses mediasi, ia menyebut sempat diminta membuat pernyataan permintaan maaf kepada pihak kesatuan. “Sebagai single parent, saya berjuang sendiri untuk anak saya. Yang saya pikirkan hanya bagaimana anak saya bisa pulih, bukan yang lain,” ujarnya.
Usai pertemuan, Dewi akhirnya buka suara. Ia meluruskan isu yang belakangan beredar soal tuntutan uang Rp 3 miliar. “Yang pertama saya sampaikan terima kasih banyak karena saya sama teman-teman diberikan kesempatan untuk curhatlah,” ujarnya.
Dia menegaskan, angka Rp 3 miliar yang ramai dibicarakan itu tidak pernah menjadi tuntutannya. “Yang digaungkan soal Rp 3 miliar itu tidak ada. Dalam draf perdamaian saya tidak ada nominal itu. Itu kan bahasa somasi, teguran karena komunikasi sebelumnya tidak menunjukkan itikad tanggung jawab,” tegasnya.
Menurut dia, yang diperjuangkan sejak awal bukanlah soal uang, melainkan pemulihan anaknya secara menyeluruh. “Yang saya utamakan adalah penyembuhan dan pemulihan anak saya sampai tuntas,” lanjutnya.
Dewi mengungkapkan, kondisi anaknya hingga kini belum sepenuhnya pulih. Secara fisik maupun mental masih menyisakan dampak. “Kondisinya tangan belum bisa meregang sama menggenggam,” ungkapnya.
Sementara itu, menanggapi aduan tersebut, Ketua Komisi A DPRD Jatim Dedi Irwansyah menyampaikan keprihatinannya. “Tentu, kami menyampaikan prihatin setinggi-tingginya kepada Ibunda Dewi serta adinda korban,” ujarnya.
Dia memastikan DPRD Jatim akan mencoba menjembatani persoalan tersebut. “Kami sangat yakin institusi TNI ini sangat profesional dan kami insya Allah akan membantu secara mediasi,” katanya.
Menurut Dedi, langkah komunikasi dengan pihak terkait akan segera dilakukannya. “Yang jelas kami akan memediasi. Secepatnya akan kita komunikasikan,” tegas kepada wartawan.

