Jombang, Metrotvjatim.com – Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf resmi membekukan akses PT Annisa Ahmada Travelindo dari sistem pendaftaran umrah-haji. Keputusan ini diambil menyusul temuan penelantaran ratusan jemaah, mulai dari keberangkatan yang molor hingga jemaah yang terdampar di Arab Saudi tanpa tiket pulang.
Gus Irfan, sapaan akrab Menteri Haji dan Umrah, mendatangi langsung kantor travel tersebut di Jl Wahid Hasyim, Jombang, Kamis (17/9/2026). Namun ia tak menemukan siapa pun di lokasi. Pintu kantor tergembok rapat tanpa satu pun petugas yang bisa ditemui.
“Tidak ada orang. Hanya tertulis kantor tidak aktif untuk sementara waktu,” kata Gus Irfan saat ditemui di kediamannya, Pondok Pesantren Al Farros, Tebuireng, Jombang.
Ia menjelaskan, sidak dilakukan setelah masalah ini pertama kali tercium pada 29 Agustus lalu. Saat itu, 200 calon jemaah yang dikoordinasikan KBIHU Muslimat Jombang gagal diberangkatkan meski telah melunasi biaya penuh.
Setelah dimediasi Kantor Kemenhaj Jombang, jemaah akhirnya bisa berangkat, namun tidak serentak seperti yang dijanjikan, melainkan dipecah bertahap.
“Seharusnya berangkat bersama. Ternyata tidak bisa, semata karena ketidakprofesionalan travel ini,” tegasnya.
Masalah rupanya berlanjut hingga jemaah tiba di Arab Saudi. Sebagian dari mereka tidak memegang tiket pulang, dan menunggu tanpa kepastian kapan bisa kembali ke Tanah Air.
Puncaknya, Rabu (16/9/2026), sebanyak 53 jemaah terpaksa pulang menggunakan tiket yang mereka beli sendiri. Keesokan paginya, giliran 29 jemaah lain menyusul dengan cara serupa.
“Ini sangat merugikan jemaah. Biaya kepulangan seharusnya sepenuhnya tanggung jawab travel,” tandas Gus Irfan.
Gus Irfan juga mengungkap jika ada hampir 4.000 calon jemaah dari seluruh Indonesia terdaftar di PT Annisa Ahmada Travelindo. Dengan asumsi setoran rata-rata Rp30 juta per jemaah, total dana yang harus dipertanggungjawabkan diperkirakan mencapai Rp120 miliar.
Pola pengelolaan dana travel ini, kata dia, menyerupai skema ponzi, di mana uang setoran jemaah baru dipakai untuk memberangkatkan jemaah yang mendaftar lebih dulu.
“Yang berangkat Mei-Juni pakai uang pendaftar Juli-Agustus. Yang Juli pakai uang Agustus. Begitu terus sampai akhirnya tak ada lagi dana untuk menutupi keberangkatan,” paparnya.
Atas kasus ini, Tim Inspektorat Kemenhaj bersama kepolisian dan kejaksaan, mulai melakukan serangkaian penyelidikan. Untuk sementara, akses pendaftaran PT Annisa Ahmada Travelindo telah ditutup total untuk mencegah bertambahnya korban baru.
“Kita tutup aksesnya dulu sambil persiapkan pencabutan izin resmi. Fokus utama kami kembalikan uang jemaah,” ujarnya.
Cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ini mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur tawaran biaya murah atau janji keberangkatan cepat. “Jangan terperdaya. Murah tapi tak berangkat, apa gunanya? Pilih travel yang jelas, terdaftar, dan terpercaya,” pungkas Irfan Yusuf Hasyim. (Amir)

