Jombang, Metrotvjatim.com – Ada cerita indah dari Kayangan, sebuah desa di Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di sana, seorang perempuan yang tak ingin warisan orang tuanya hilang terus berjuang mewujudkan mimpinya.
Dia adalah Titik Martianah. Sekitar 2011, ia memulai langkah kecil dengan membuat kerupuk samiler, camilan tradisional berbahan dasar singkong. Makanan itu sama persis seperti yang dulu dirintis ayah dan ibunya.
Dengan peralatan terbatas, kemampuan produksinya pun belum besar. Setiap hari, Titik hanya sanggup mengolah sekitar 10 kilogram singkong. Ia mengupas, mencuci, menggiling, membumbui, mengukus, membentuk, lalu menjemurnya di bawah terik matahari. Sabar dan telaten menjadi temannya sehari-hari. Hasilnya dijual di sekitar rumah, dan perlahan namun pasti namanya mulai dikenal.
Namun Titik bermimpi lebih jauh. Ia ingin kerupuk samiler buatan tangannya dinikmati lebih banyak orang. Pada 2018, keberanian itu ia wujudkan dengan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI Unit Diwek senilai Rp25 juta. Uang itu ia pakai membeli mesin penggiling agar pekerjaan lebih ringan dan hasil lebih banyak.
Perubahannya terasa nyata. Dari semula 10 kilogram per hari, kini ia mampu mengolah 50 hingga 60 kilogram. Tak butuh waktu lama, sekitar setahun, pinjaman pertama itu lunas.
Titik tersenyum lega. Ia membuktikan usahanya mampu berdiri tegak.
Kepercayaan itu ia bangun perlahan. Pada 2020, dengan dukungan KUR BRI senilai Rp160 juta, Titik membangun gedung produksi yang lebih luas di belakang rumahnya. Kini ada ruang yang memadai untuk bekerja, dan puluhan tetangga mendapat kesempatan bekerja bersamanya. Kapasitas produksi pun melonjak hingga 200 kilogram singkong per hari.
Kerupuk samiler bermerek Luliza itu kini tak lagi hanya beredar di sekitar Diwek. Produknya menembus pasar Blitar, Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, hingga Surabaya. Dua varian andalannya, original dan pedas, paling banyak dicari pembeli.
Titik tak berhenti bermimpi. Pada 2024, ia kembali mengajukan KUR BRI senilai Rp110 juta untuk membeli mobil pikap. Tujuannya sederhana, mengambil singkong langsung dari petani di desa-desa tanpa perantara. Pastinya, harga bahan baku akan lebih hemat dan petani turut diuntungkan.
“Alhamdulillah, usaha saya bisa sampai di titik ini berkat dukungan dari BRI. Prosesnya mudah, cepat, dan bunganya terjangkau. Selama ini saya belum pernah mencari ke tempat lain,” ungkap Titik dengan mata berbinar penuh syukur.
Dari dapur rumah sederhana, dari 10 kilogram singkong per hari, Titik Martianah kini telah melangkah jauh. Kisahnya mengingatkan kita bahwa mimpi yang digarap dengan ketulusan, ditopang dukungan yang tepat, dan dijalani dengan kejujuran bisa membawa seseorang sejauh itu. (Amir)

