Jombang, metrotvjatim.com – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Tambakberas, Jombang Jawa Timur, dua tokoh sentral NU membagi semangat lewat acara nonton bareng pertandingan final Piala Dunia. Mereka mengajak santri mengambil hikmah dari olahraga sepak bola untuk membangun karakter yang kuat.
Hadir dalam kesempatan itu Ketua PWNU Jatim sekaligus Pengasuh Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), bersama Ketua Umum PP Majelis Alumni IPNU Prof KH Asrorun Niam Sholeh, di Ribath Al Lathifiyah 2 dan Al Wahabiyah 1, Senin (20/7/2026). Turut hadir Sekjen Presidium Majelis Alumni IPNU Idy Muzayad, Nyai Dr. Lelly Lailiyah, serta para sesepuh IPNU dan kiai muda.
Mewakili pengasuh tempat, H Mujtahidur Ridho (Gus Edo) menyambut gembira kehadiran para tokoh. Ia berharap silaturahmi ini membawa berkah besar bagi seluruh santri, terlebih ajang akbar Muktamar sebentar lagi digelar.
Manfaatkan Masa Muda Belajar Tanpa Henti
Prof Niam mengajak santri tak menyia-nyiakan masa muda untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ia mencontohkan Nyai Lelly yang tetap bersemangat meraih gelar doktor meski usia tak lagi muda.
“Beliau yang sudah sepuh saja bisa, apalagi kalian yang masih muda dan segar. Gunakan waktu ini sebaik mungkin untuk meraih cita-cita,” ujarnya.
Ia mengutip syair Imam Syafi’i: hilangnya kesempatan belajar saat muda ibarat jenazah yang sudah layak ditakbiri empat kali. Segala kesuksesan, entah memimpin organisasi maupun daerah, hanya bisa diraih lewat belajar dan proses panjang.
Lewat analogi sepak bola, ia mencontohkan persaingan sehat Lionel Messi dan Lamine Yamal yang tetap saling menghargai. Begitu pula NU bisa besar berkat kerjasama para pendirinya. Kunci NU ke depan adalah kebersamaan, bukan permusuhan.
Sepak Bola Ajarkan Disiplin dan Sistem
Gus Kikin sependapat, sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan hidup: butuh disiplin tinggi, kemampuan diri, dan kerjasama tim yang solid.
Ia mengingatkan pepatah Arab: “Kebenaran tanpa sistem yang baik akan mudah dikalahkan kebatilan yang teratur.” Keberhasilan Lamine Yamal pun lahir dari latihan tekun sejak dini. Ia ingin santri menjadikannya teladan agar masa mudanya tak lewat sia-sia tanpa karya.
Jelang Muktamar, Gus Kikin meminta santri menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dari ulama yang datang ke Tambakberas. Ia pesankan santri harus memegang teguh tradisi baik leluhur, namun tetap terbuka pada hal baru yang lebih bermanfaat.
“Jangan sampai tertinggal zaman. Jadilah pribadi unggul dan siap memimpin, serta membawa syiar Islam yang penuh kasih sayang bagi seluruh alam,” tantang Gus Kikin menutup arahannya.

