Surabaya, metrotvjatim.com : Pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 menjadi momentum penting bagi warga nahdliyin untuk memperkuat persatuan, memperkokoh organisasi, serta merumuskan langkah strategis dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa dan umat di masa mendatang.
Muktamar yang merupakan forum permusyawaratan tertinggi di tubuh NU ini selalu menjadi ajang konsolidasi sekaligus refleksi perjalanan organisasi yang telah berdiri lebih dari satu abad. Berbagai kalangan, mulai dari pengurus, kiai, ulama, akademisi, hingga warga nahdliyin di berbagai daerah menyambut pelaksanaan Muktamar dengan penuh antusias.
Kader Nahdlatul Ulama (NU) Muhammad Nur Hayid itu menekankan agar NU tidak lagi hanya konsen melahirkan ide dan gagasan semata, sebab saat ini ide dan gagasan dapat dijawab secara komprehensif oleh algoritma Artificial Intelligence (AI) jika dimanfaatkan dengan baik. Namun, lebih jauh NU benar-benar harus menyiapkan diri untuk berpartisipasi secara aktif dalam konteks transformasi sosial maupun transformasi geopolitik.
“Saya mendengar di 2030 ada desain besar Stateless. Tidak ada lagi quote unquote negara karena kebijakan apapun nanti akan dikontrol secara global baik health policy, keputusan tentang kesehatan nanti WHO yang menentukan. Ketika ada negara yang menolak langsung nanti akan kena sanksi misalnya,” ujar Gus Hayid, sapaan akrab Muhammad Nur Hayid.
Hal itu disampaikan Gus Hayid dalam Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka menyambut pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Kantor Yayasan Talibuana Nusantara, Komplek Ligamas Blok G/20, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026).
Untuk menjawab tantangan tersebut, Gus Hayid menilai NU membutuhkan figur pemimpin yang berkarakter kepemimpinan yang kuat serta sosok yang mampu mengesampingkan kepentingan pribadi.
“Kalau masih ada kepentingan pribadi artinya problem internalnya gak selesai, saya kira problem konfliktual di NU akan terus berlanjut,” ucap Anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) ini.
Ia pun mendorong agar para Pengurus Wilayah (PW) dan Pengurus Cabang (PC) yang memiliki mandat untuk memilih pemimpin baru di Muktamar NU yang akan datang segera mencari terobosan guna menentukan kedaulatan NU, apakah berada di tangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), atau di tangan mereka sebagai pemilik suara yang sah.
“Ini kan menjadi tantangan betul apakah Kedaulatan Nahdlatul Ulama ke depan melalui tangannya PBNU akan kita serahkan Kepada beliau-beliau, atau mau dibikin ikhtiar lahir dan batin pokoknya yang menentukan adalah seluruh pengurus wilayah dan pengurus cabang yang memiliki mandat hari ini untuk melakukan perubahan secara signifikan,” tegasnya.
Selain itu, Gus Hayid berharap Muktamar sebagai forum musyawarah tertinggi NU ke-35 nanti menjadi momentum transformasi NU untuk menyiapkan berbagai langkah strategis guna menghadapi perkembangan yang luar biasa cepat, baik luar maupun dalam negeri seperti penguatan kesejahteraan pada basis warga NU di akar rumput yang mayoritas pekerjaannya berkutat di wilayah agraris sebagai petani, nelayan dan lainnya.
“Maka saya kira isu-isu itu di muktamar nanti juga tidak kalah pentingnya untuk dibahas dan dicarikan rekomendasi solusinya daripada sekedar kita menentukan siapa calon ketua umum ke depan apalagi dengan bayang-bayang ini akan didukung oleh si A dan si B dan seterusnya,” tutupnya.

