Bojonegoro, metrotvjatim.com : Dalam rangka terus memacu ide kreatif dan mengembangkan potensi siswa, Kompetensi Keahlian Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Negeri 1 Bojonegoro menggelar festival film dokumenter pelajar tahun 2026. Kegiatan tersebut juga merupakan rangkaian Uji Kompetensi Keahlian (UKK) siswa SMK.
Ferry Perdana Putra, Wali Kelas XII DKV SMKN 1 Bojonegoro mengatakan, festival film dokumenter pelajar 2026 bertema ‘ Brain wash’ yang artinya ‘Memaksa’, dimana peserta diharapkan bisa melampaui limit dalam projek pembuatan video dengan cara memanipulasi pola pikir mereka.
Selain itu, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membiasakan siswa berpikir kreatif dengan memproduksi sebuah konten berdasarkan brief, target waktu, dan standar industri. Setidaknya ada 7 karya film, trailer dan poster film dalam gelaran karya siswa akhir jenjang tersebut.
“Dalam produksi film dokumenter terbagi menjadi 7 kelompok atau tim produksi. Brain wash dipilih sebagai tema karena anak-anak Jurusan DKV selama 3 bulan menjelang produksi film untuk ujian kompetensi keahlian mereka juga membuat karya film pra UKK yang berdurasi lebih pendek,” jelasnya.
Pak Fe sapaan akrabnya menjelaskan, selama 3 bulan terakhir ini para siswa kelas XII benar-benar memutar otak ataupun ide agar projek mereka selesai tepat waktu, sehingga manajemen waktu sangat penting dalam kegiatan tersebut, mengingat siswa tidak lagi belajar dengan duduk manis dalam kelas tapi harus praktek produksi langsung di lapangan.
“Karya dalam festival film dokumenter pelajar ini berdurasi 10 menit dan 1 menit dalam bentuk trailer. Ada award film dan poster yang diperebutkan oleh 7 kelompok produksi. Festival ini melibatkan selain juri eksternal dari luar kota, juga apresiator dan kolaborator dari EJSC Bojonegoro (East Java Super Coridor) Bakorwil,” paparnya.
Salah satu tim kelompok 7, Talina Agustin mengatakan, kelompoknya dalam produksi video ini mengangkat judul pawon krecek, dimana iya bersama teman-temannya ingin mengangkat UMKM yang memproduksi krecek untuk bahan baku krupuk rambak.
“Selain kami ingin membantu UMKM, kami juga ingin mengangkat kisah inspiratif yang mana dulu pemilik usaha ini adalah buruh, dan saat ini bisa buka usaha sendiri di Desa Tanjungharjo Kecamatan Kapas, sehingga cerita itu bisa sebagai edukasi untuk anak muda Bojonegoro,” kata Talina.
Hal senada juga diungkapkan, Siska Ayu Puspitasari dari kelompok 6 yang mengangkat judul film “menolak punah manisnya gipang”. Siska bersama timnya mengeksplore terkait UMKM jajanan jadul Gipang di Desa Lengkong Kecamatan Ngasem yang hingga saat ini masih eksis ditengah jajanan mondern yang tiap hari mengeluarkan bermacam produk, sehingga timnya sangat tertarik untuk meraciknya menjadi sebuah film dokumenter.
“Selain tujuan utamanya untuk menyelesaikan UKK, kami juga ingin membantu pelaku UMKM dalam hal ini jajan Gipang agar makin dikenal masyarakat luas terutama Gen Z dimana saat ini jajanan tersebut mulai dilupakan, sehingga kami berharap usaha Gipang makin maju dan bisa membuka lapangan pekerjaan seluas luasnya untuk masyarakat sekitar,” tutup Siska penuh semangat.

