Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin edar bagi 43 produk obat tuberkulosis (TB). BPOM juga menyetujui 33 produk obat generik pertama untuk berbagai indikasi, termasuk kanker, TBC dan diabetes selama 2024-2026.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, pencapaian ini menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan terapi. Sekaligus mendukung peningkatan akses masyarakat terhadap obat.
Taruna menjelaskan, berkomitmen mendukung program prioritas pemerintah melalui pengawasan obat dan makanan yang berbasis risiko, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta pendampingan kepada pelaku usaha dan penyelenggara program.
“Dukungan BPOM terhadap agenda pemerintah diwujudkan melalui kerja nyata dalam melindungi masyarakat, memastikan keamanan obat dan makanan, serta mendorong tumbuhnya industri yang berdaya saing,” kata Taruna dikutip dari Antara, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Pemerintah Indonesia menargetkan pemberantasan TBC sebagai salah satu program percepatan di bidang kesehatan. Data Kementerian Kesehatan per Oktober 2026 menunjukkan, terdapat 666 ribu kasus TBC yang ditemukan dari perkiraan 1.080.000, dengan tingkat pengobatan sebesar 90 persen atau 599 ribu kasus.
Selain itu, Taruna menjelaskan pencapaian BPOM selama dua tahun masa jabatan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sepanjang 1 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2026, BPOM melakukan penyidikan pro-justitia dalam 360 perkara dengan nilai barang bukti mencapai Rp335 juta.
BPOM juga merekomendasikan penurunan 451.791 tautan berani yang menjual produk ilegal serta memasukkan 1.602 produk ilegal ke dalam daftar negatif.
Di tingkat internasional, pengakuan BPOM sebagai WHO-Listed Authority (WLA) pada Desember 2025 menjadi tidak penting bagi kredibilitas sistem regulasi obat Indonesia. Pengakuan ini sekaligus menjadi modal untuk meningkatkan kepercayaan global terhadap kapasitas pengawasan obat nasional dan mendukung daya saing industri farmasi Indonesia.
Taruna menegaskan, BPOM akan terus menjalankan amanah pengawasan secara profesional dan adaptif, sejalan dengan prioritas pembangunan nasional, mandiri dan berkelanjutan.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, turunnya kejadian TBC selama dua tahun terakhir disebabkan oleh agresifnya skrining serta pengobatan guna mencegah penularan.
Upaya lain untuk mengeliminasi TBC adalah kontak erat dengan pasien TBC, uji klinis vaksin M72, serta mengembangkan rejimen pengobatan untuk mempersingkat waktu pengobatan dari 4-6 bulan menjadi satu per satu.

