Banyuwangi, Metrotvjatim.com- Ratusan supir truk ekspedisi dan tronton berunjuk rasa di depan pintu PT Indonesia Fery ASDP cabang Ketapang di Banyuwangi Jawa Timur Kamis 3 September 2026. Para sopir ini minta kejelasan pihak ASDP Pelabuhan Ketapang terkait aturan yang diduga memihak, sehingga mereka menunggu lama untuk menyeberang dari Jawa menuju ke Bali.
Menurut supir, kejadian antrian kendaraan terutama untuk truk ukuran besar yang akan menyeberang dari Jawa ke Bali di pelabuhan Ketapang berulang kali terjadi. Mereka juga menilai aturan pihak ASDP Ketapang, lebih memprioritaskan kendaraan roda empat pribadi dan truk ukuran sedang untuk menyeberang ke Bali.
Sementara untuk truk ekspedisi ukuran besar harus mengantri panjang hingga sepanjang 12 kilometer hingga luar pelabuhan Ketapang. “Untuk bisa menyeberang ke Bali kadang kami harus menunggu dan antri hingga dua hari,” protes salah satu supir, Muksin.
Saat ini, sebanyak 25 kapal berkapasitas besar dioperasikan pada lintasan Ketapang–Gilimanuk, termasuk dengan mengerahkan tiga kapal bantuan. Optimalisasi tersebut dilakukan melalui koordinasi intensif dengan regulator dan seluruh pihak terkait, sebagai langkah percepatan untuk meningkatkan kapasitas layanan di tengah kondisi operasional yang dinamis.
Selain tingginya volume kendaraan yang akan menyeberang, kepadatan yang terjadi tidak terlepas dari adanya pekerjaan peningkatan kapasitas Dermaga 2 Pelabuhan Gilimanuk dan dermaga ponton Pelabuhan Ketapang menjadi dermaga movable bridge (MB) dengan daya dukung hingga 50 ton.
Peningkatan kapasitas tersebut merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat keandalan infrastruktur penyeberangan, serta mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang.
Selama proses pengerjaan berlangsung, kapasitas layanan dermaga belum dapat beroperasi secara penuh seperti kondisi normal. Dalam kondisi normal, lintasan Ketapang–Gilimanuk dapat melayani hingga 28 kapal. Oleh karena itu, pengaturan pola operasi dan optimalisasi kapal menjadi langkah penting untuk menjaga kelancaran arus kendaraan selama periode pekerjaan berlangsung.
General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto menjelaskan bahwa penguatan langkah operasional juga dilakukan langsung di lapangan. Tiga kapal bantuan dioperasikan dengan menerapkan skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) untuk mempercepat proses bongkar muat dan mempersingkat waktu sandar kapal. Skema tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas layanan sekaligus mempercepat pergerakan kendaraan secara bertahap.
“KMP Atayana dan KMP Portlink VII menerapkan pola TBB di Pelabuhan Gilimanuk, sementara KMP Liputan XII menerapkan pola TBB di Dermaga LCM. Langkah ini kami optimalkan untuk mempercepat proses pelayanan dan membantu mengurai kepadatan kendaraan secara bertahap,” jelas Media.(him)

