Kota Malang, Metrotvjatim.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad kembali digelar meriah di Kota Malang melalui Festival Sekarbanjar 4. Kegiatan yang diinisiasi Lesbumi PCNU bersama warga Merjosari dan Pesantren Budaya Karanggenting, diharapkan mampu melestarikan budaya nusantara dalam khasanah Islam.
Festival Sekarbanjar 4 berlangsung sejak 3-5 September 2026 dengan beragam kegiatan. Mulai buak ajang dan iber-iber, pentas seni budaya, kirab sekarbanjar, maulid diba’, pengajian maulid, hingga pemberian anugerah.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya Festival Sekarbanjar 4. Menurutnya masyarakat harus bergotong royong dalam menjaga kearifan lokal.
“Festival Sekarbanjar 4 ini adalah upaya untuk uri-uri kebudayaan dan harus kita pertahankan. Kearifan lokal yang turun temurun ini punya arti mendalam selain untuk peringatan Maulid Nabi, juga silaturahmi warga,” terangnya.
Festival Sekarbanjar juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih besar lagi. Hal tersebut sekaligus mendukung program 1000 event yang digelar oleh Pemerintah Kota Malang.
“Apalagi Festival Sekarbanjar banyak menghadirkan pejabat lokal dan nasional. Bisa menjadi potensi unggulan yang bisa dipromosikan dan kita lestarikan,” lanjutnya.
Sementara Ketua PCNU Kota Malang, KH. Isroqunnajah, menyampaikan masuknya ajaran Islam di Nusantara banyak dipengaruhi oleh para pedagang. Bahkan pengaruh Islam di Nusantara dinilai lebih kuat dibandingkan lama masa pendudukan Belanda di Indonesia.
Saat masuk ke Nusantara, penyebar agama Islam melakuka proses asimilasi, inkulturasi dan juga akulturasi. Upaya tersebut dilakukan agar banyak masyarakat yang tertarik dengan ajaran Islam.
“Bahkan ada proses mutilasi, pemotongan budaya. Kita tahu tumpeng merupakan miniatur gunung yang oleh masyarakat Jawa sebagian dihormati karena dianggap tempat bersemayam Sang Hyang Widhi. Oleh Islam direduksi sehingga gunung tidak dikultuskan sebagai sesuatu yang disembah,” tuturnya.
Melalui Festival Sekarbanjar, diharapkan masyarakat tidak hanya paham tentang agama namun juga budaya setempat. Hal tersebut untuk menegaskan bahwa dakwah seharusnya dilakukan dengan santun. (Aga)

