Jombang, Metrotvjatim.com – Sembilan hari sudah kemul lusuh peninggalan mendiang ibunya menemani Surono (37), warga Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Entah di dasar Laut Jawa, atau di suatu tempat yang hingga kini tak seorang pun tahu pasti.
Ari Supriyatin masih ingat betul malam itu. Iparnya sibuk membongkar lemari, mencari-cari selimut yang bertahun-tahun tak pernah ia sentuh. Padahal Surono dikenal sebagai kernet truk yang bepergian dengan bawaan seadanya.
Kali ini berbeda. Ia bersikeras membawa kemul kesayangan ibunya yang telah lama tiada.
“Biasanya enggak pernah bawa kemul. Itu kemul kesayangan ibu yang sudah almarhum. Tapi waktu itu dibawa terus. Sebelum berangkat juga dicari-cari,” kata Ari kepada wartawan di rumahnya, Selasa, 22 September 2026.
Jumat malam, 18 September, pukul 23.00 WIB, Surono berpamitan. Ia berangkat mengawal truk fuso bermuatan sayur menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bersama sopir bernama Yahya. Sesaat sebelum kapal berangkat, keluarganya di kampung menerima kiriman video pendek: truk mereka perlahan memasuki geladak KM Virgo Transport 8.
Namun, kapal itu tak pernah sampai tujuan. Di perairan Masalembo, Laut Jawa, KM Virgo Transport 8 terbalik dan tenggelam pada Minggu, 13 September. Sembilan hari berselang, nama Surono masih tercatat sebagai salah satu penumpang yang belum ditemukan, meski identitasnya sudah terkonfirmasi dalam manifes resmi di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Ari menuturkan, Yahya sopir yang selamat, menjadi satu-satunya sumber cerita tentang detik-detik terakhir yang diketahui keluarga. Malam kejadian, kata Ari menirukan kesaksian sopir itu, Surono tengah tertidur di ruang istirahat ketika kapal mulai oleng.
Yahya sempat membangunkannya. Namun keadaan sudah terlanjur genting. Lambung kapal kemasukan air, lampu-lampu padam, dan penumpang berebut jalan keluar dalam gelap.
“Kalau sopirnya bilang sudah bangun. Tapi kalau orang masih bangun tidur kan mungkin belum terlalu 100 persen fokus, sehingga tidak tahu lagi keberadaannya,” ujar Ari.
Di rumah Kwaron, hari-hari Ari dan keluarga kini diisi menunggu. Sesekali mereka bolak-balik ke posko informasi di Tanjung Perak, tempat Basarnas melaporkan perkembangan pencarian.
Namun, hingga kini keluarga tak kunjung mendapat kabar detail soal keberadaan Surono.
“Kita tetap berharap yang terbaik. Mungkin menunggu keajaiban, kalaupun memang masih diberi umur panjang, ya segera ditemukan dalam kondisi selamat. Tapi kalau memang sudah takdirnya berkata lain, apa pun kondisinya tetap ditemukan, supaya kita bisa merawat jenazahnya dengan baik,” ucap Ari.
Kemul itu, kata Ari, bukan sekadar selimut. Ia satu-satunya benda yang masih menyimpan hangat mendiang ibu Surono, dan kini mungkin satu-satunya yang menemaninya, di mana pun ia berada.
Surono bukan satu-satunya warga Jombang yang hilang dalam musibah ini. Gondham Prakoso (32), warga Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, yang bertugas sebagai Second Officer di kapal yang sama, juga belum ditemukan.
(Amir Zakky)

