Surabaya, metrotvjatim.com – Rumah Sakit Kementerian Kesehatan (RS Kemenkes) Surabaya fokus layanan penanganan strok. Selain penyakit jantung, gagal ginjal, dan kanker, penanganan strok terus diperkuat untuk menekan angka kematian serta kecacatan akibat serangan strok.
Rata-rata 350.000 orang per tahun di Indonesia meninggal akibat serangan strok. Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha Muliana Lumogom Siahaan, mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya mengenali gejala strok dan membawa pasien ke fasilitas kesehatan secepat mungkin.
Pasalnya, keterlambatan penanganan masih menjadi salah satu persoalan serius. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap gejala awal strok sebagai keluhan biasa, bahkan menyebutnya sebagai “angin duduk”.
Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha Muliana Lumogom Siahaan, menegaskan bahwa masyarakat harus segera mencari pertolongan medis ketika mengalami gejala yang mengarah pada strok.
“Kalau tiba-tiba mengalami gejala seperti itu, jangan bilang angin duduk. Itu tanda-tanda strok yang harus segera kita atasi. Kurang dari empat jam sudah harus sampai di rumah sakit,” tegas dr. Martha.
Menurutnya, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan dalam penanganan strok. Semakin cepat pasien mendapatkan pertolongan, semakin besar peluang untuk meminimalkan risiko kematian maupun kecacatan.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak pasien yang datang ketika sudah terlambat.
“Di sini rata-rata ada beberapa pasien yang datang dalam waktu kurang dari empat jam. Tapi di luar itu ada sekitar lima kali lipat yang datang terlambat. Ada yang sudah sehari, bahkan ada yang sampai 23 hari di rumah baru dibawa ke sini,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena keterlambatan membawa pasien ke rumah sakit dapat mempersempit kesempatan tenaga medis untuk memberikan penanganan secara optimal.
Sementara itu, Plt. Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Kemenkes Surabaya, dr. Adhy Nugroho, MARS, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kondisi sudah aman ketika gejala strok tiba-tiba menghilang.
Menurutnya, gejala yang sempat muncul kemudian mereda bisa menjadi tanda Transient Ischemic Attack (TIA) atau serangan iskemik sementara yang tetap membutuhkan pemeriksaan medis.
“Jangan menganggap kalau gejalanya hilang berarti sudah sembuh. Itu bukan berarti penyakitnya sudah sembuh. Karena itu deteksi dini strok harus terus dilakukan,” ujar dr. Adhy.
Untuk mempercepat penanganan pasien, RS Kemenkes Surabaya juga berupaya memangkas waktu pelayanan sejak pasien tiba di unit gawat darurat.
“Dalam waktu empat jam itu kita tangani. Pemeriksaan sampai obat kurang dari 30 menit. Jadi hasilnya bisa sangat ditekan dibandingkan pasien yang datang terlambat,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada penanganan, RS Kemenkes Surabaya juga mendorong langkah pencegahan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Pemeriksaan kesehatan secara berkala, seperti pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, dan profil kolesterol, dinilai penting untuk mengetahui sekaligus mengendalikan berbagai faktor risiko strok sejak dini.
Masyarakat juga diminta mengenali tanda-tanda utama strok, di antaranya perubahan pada wajah yang tidak simetris, kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh, serta gangguan bicara yang muncul secara tiba-tiba.
Jika gejala tersebut muncul, masyarakat diminta tidak menunggu gejala membaik dengan sendirinya. Pasien harus segera dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis secepat mungkin.
Semakin cepat strok ditangani, semakin besar peluang pasien untuk terhindar dari risiko kecacatan maupun kondisi yang lebih fatal. (flh)

